Jumat, 25 September 2015

BAB VII : Bahasa Indonesia


JANJIKU sudah terpenuhi. Pendidikanku sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnya tidak ada yang akan menghalang‐halangiku menjalankan pekerjaan untuk mana aku dilahirkan. Semenjak aku berdiri diatas jembatan di Surabaya itu dan mendengarkan jeritan rakyatku, aku menyadari bahwa akulah yang harus berjuang untuk mereka. Hasrat yang menyala‐nyala untuk membebaskan rakyatku bukanlah hanya ambisi perorangan. Jiwaku penuh dengan itu. Ia melewati sekujur badanku. Ia mengisi padat lubang hidungku. Ia mengalir melalui urat nadiku. Untuk itulah orang mempersembahkan seluruh hidupnya. Ia lebih daripada hanya sebagai kewajiban. Ia lebih daripada panggilan jiwa. Bagiku ia adalah satu …… kejakinan. Menurut para mahaguru tesisku tentang konstruksi pelabuhan dan jalanan air ditambah dengan teoriku tentang perencanaan kota mempunyai “nilai penemuan dan keaslian yang begitu tinggi”, sehingga untukku disediakan jabatan sebagai assisten dosen. Aku menolaknya. Juga ditawarkan pekerjaan pemerintahan kota. Inipun kutolak. Salah seorang mahaguru, Professor Ir. Wolf Schoemaker, adalah seorang besar. Ia tidak mengenal warna kulit. Baginya tidak ada Belanda atau Indonesia. Baginya tidak ada pengikatan atau kebebasan. Dia hanya menundukkan kepala kepada kemampuan seseorang.
“Saya menghargai kecakapanmu,” katanya. “Dan saya tidak ingin kecakapan ini tersia‐sia. Engkau mempunyai pikiran yang kreatif. Jadi saya minta supaya engkau bekerja dengan pemerintah.”
Sungguhpun aku keberatan, ia menyerahkanku kepada Direktur Pekerjaan Umum yang meminta kepadaku untuk merencanakan suatu proyek untuk perumahan Bupati. Insinyur kepalanya sudah tentu seorang Belanda yang tidak mengenal sama sekali kehidupan orang Indonesia dan kebutuhannya. Akan tetapi oleh karena aku tidak menghendaki pekerjaan ini, kusampaikan kepadanya pendapatku tentang rencana arsitekturnya;
“Maafkan saya, tuan, konsepsi tuan didasarkan pada semangat pedagang rempah-rempah Belanda. Setiap orang Belanda merencanakan secara teknis salah. Persil‐persil di Bandung hanya 15 meter lebar dan 20 meter ke dalam dan rumah‐rumahnya sempit. Kota Bandung direncanakan seperti kandang ayam. Bahkan jalannya sempit, karena ia dibuat menurut cara berpikir Belanda yang sempit. Sama saja dengan proyek yang tuan rencanakan. Ia tidak mempunyai ‘Schwung’.”
Karena aku telah menolak pekerjaan yang diberikan itu, aku merasa wajib memberi penjelasan kepada Professor Schoemaker, “Tuan telah menyatakan, bahwa saya dalam ruang lingkup yang kecil memiliki daya cipta. Yah, saya ingin mencipta,” kataku dengan hebat. “Akan tetapi untuk saya sendiri.
Saya tidak yakin dikemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun dari suatu bangsa. “Politik usang dari Gerakan Kebangsaan kami, yaitu mengadakan dengan pemerintah dengan cara mengemis‐ngemis, hanya menghasilkan janji‐janji yang tidak ditepati. Dengan usaha saya, kami baru‐baru ini memulai politik non‐kooperasi. Ini didasarkan pada kehendak percaya pada diri sendiri dan di bidang ekonomi terlepas dari bantuan negara asing.” Kawanku itu mendengarkan dengan tenang, kemudian berkata, “Anak muda, hendaknya bakatmu dipergunakan secara maksimal. Kalau engkau berdiri sendiri, ini akan memakan waktu bertahun‐tahun untuk bisa maju. Hanya orang‐orang Belanda yang berpangkat tinggi atau pegawai pemerintahlah yang bisa berhasil mengadakan biro arsitek. Dan mereka tentu keberatan untuk mempekerjakan seorang muda yang tidak berpengalaman dan juga kebetulan berada paling atas dalam daftar hitam polisi, karena dianggap sebagai pengacau. Usul saya ini adalah permulaan yang baik untukmu.” Pandangannya itu memang baik. “Professor, saya menolak untuk bekerja‐sama, supaya tetap bebas dalam berpikir dan bertindak. Kalau saya bekerja dengan pemerintah, secara diam‐diam saya membantu politik penindasan dari rezim mereka yang otokratis dan monopolistis itu. Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan untuk menjadi pegawai kolonial segera setelah memperoleh gelarnya. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama‐lamanya.” “Jangan terima pekerjaan jangka lama, kalau sekiranya perasaan tidak senangmu begitu kuat,” ia mempertahankan, “Akan tetapi buatlah satu rumah ini saja untuk Bupati. Cobalah kerjakan ….. Kerjakanlah atas permintaan saya.” Aku melakukan sebagaimana yang dimintanya. Pekerjaan ini sangat berhasil dan aku dibanjiri dengan permintaan untuk mengerjakan karya teknik semacam itu untuk pejabat‐pejabat lain. Sungguhpun bantuan uang dari keluargaku sudah tidak ada lagi semenjak aku selesai dan sekalipun aku tidak mempunyai jalan yang nyata untuk membantu isteriku, aku menolaknya. Aku membuat rencana Kabupaten hanya karena sangat menghargai dan menghormati Professor itu. Akan tetapi ini adalah yang pertama dan terakhir aku bekerja untuk Pemerintah. Kemudian, ketika Departemen Pekerjaan Umum menawarkan kedudukan tetap kepadaku, aku menolaknya dengan alasan bahwa aku memperjuangkan non‐kooperasi. Aku sangat memerlukan uang dan pekerjaan. Aku sudah tidak mempunyai harapan sama sekali untuk memperoleh kedua‐duanya ini ketika aku mendengar lowongan di sekolah Yayasan Ksatrian yang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi. Mereka mencari seorang guru yang akan mengajar dalam dua mata pelajaran. Yang pertama adalah sejarah, untuk mana aku sangat berhasrat besar. Mata pelajaran yang lain? Ilmu pasti! Dan dalam segala segi‐seginya lagi! Jadi sebagaimana telah kutegaskan dengan segala kejujuran yang pahit, kalau ada mata pelajaran yang sama sekali tidak bisa kuatasi, maka itulah dia ilmu pasti. Akan tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Guru yang ditugaskan untuk melakukan tanya jawab bertanya;
“Ir. Sukarno, tuan adalah insinyur yang berijazah, jadi tentu tuan ahli dalam ilmu pasti, bukankah begitu?”,
“Oh, ya tuan,” aku menyeringai merecik kepercayaan. — “Ya, tuan. Ya, betul. Saya menguasainya.”
“Baiklah, tuan dapat mengajar ilmu pasti?” tanyanya.
“Mengapa tidak,” aku membohong. “Saya menguasai betul ilmu pasti. Menguasainya sungguh‐sungguh. Ini mata pelajaran yang saya senangi.”
Inggit dan aku sudah kering sama sekali, tidak mempunyai apa‐apa lagi. Apa yang dapat kami suguhkan kepada tamu hanya secangkir teh encer tanpa gula. Jadi, apa yang harus kukatakan kepadanya? Bahwa aku sama sekali tidak dapat mengajar ilmu pasti? Bahwa sesungguhnya aku gagal dalam pelajaran itu?. Kalau demikian, tentu aku tidak akan memperoleh pekerjaan itu. Temanku, Dr. Setiabudi, datang sendiri kepadaku dan sekali lagi bertanya;
“Bagaimana pendapatmu sesungguhnya, bisakah engkau mengajar?”
Dan kuulangi dengan suara yang tergoncang dan tersinggung;
“Apakah saya bisa mengajar? Tentu saya bisa mengajar. Tentu saja saya bisa. Sudah pasti.”
“Ilmu pasti juga?”
“Ya, ilmu pasti juga.”
Aneh, kenyataannya aku menghadapi kesukaran justru dalam pelajaran sejarah. Kelasku berjumlah 30 orang murid, termasuk Anwar Tjokroaminoto. Tak seorangpun memberiku petunjuk dalam cara mengajar. Jadi aku mencobakan caraku sendiri. Sayang, aku tidak berhasil mendekati metode yang resmi. Dalam pelajaran sejarah aku mempunyai gayaku sendiri. Aku tidak menyesuaikan sama sekali teori bahwa anak‐anak harus diajar secara kenyataan. Angan‐anganku ialah hendak menggerakkan mereka supaya bersemangat. Aku lebih berpegang pada pengertian sejarah daripada mengajarkan nama‐nama, tahun dan tempat. Aku tak pernah memusingkan kepala tentang tahun berapa Columbus menemukan Amerika, atau tahun berapa Napoleon gagal di Waterloo atau hal‐hal lain yang sama remehnya seperti apa yang biasanya mereka ajarkan di sekolah. Kalau seharusnya aku memperlakukan murid‐muridku sebagai anak‐anak yang masih kecil, yang kemampuannya dalam mata pelajaran ini terpusat pada mengingat fakta‐fakta, maka aku berfalsafah dengan mereka. Aku memberikan alasan mengapa ini dan itu terdjadi. Aku memperlihatkan peristiwaperistiwa sejarah secara sandiwara. Aku tidak memberikan pengetahuan secara dingin dan kronologis. Ooo tidak, Sukarno tidak memberikan hal semacam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator yang berbakat dari lahirnya. Aku mengayunkan tanganku dan mencobakannya. Kalau aku bercerita tentang Sun Yat Sen, aku betul‐betul berteriak dan memukul meja.

Sudah menjadi aturan dari Departemen Pengajaran Hindia Belanda, sekolah‐sekolah dikunjungi oleh penilik‐penilik sekolah pada waktu‐waktu tertentu. Pada waktunya yang tepat seorang penilik sekolah datang mendengarkan pelajaran sejarahku. Dia duduk dengan tenang dibelakang kelas untuk memperhatikan. Selama dua jam aku mengajar dengan cara yang menurut pikiranku paling baik, sementara mana aku menyadari bahwa dia mendengarkan dengan saksarna. Secara kebetulan pelajaran kali ini berkenaan dengan Imperialisme. Karena aku sangat menguasai pokok persoalan ini, aku menjadi begitu bersemangat sehingga aku terlompat‐lompat dan mengutuk seluruh sistemnya. Dapatkah engkau membayangkan? Di hadapan penilik sekolah bangsa Belanda yang memandang padaku dengan wajah tidak percaya, aku sungguh‐sungguh menamakan Negeri Belanda sebagai “Kolonialis yang terkutuk ini”! Ketika pelajaran dan kisahku kedua‐duanya selesai, penilik sekolah itu menyatakan dengan seenaknya bahwa menurut pendapatnya sesungguhnya aku bukan pengajar yang terbaik yang pernah dilihatnya dan bahwa aku tidak mempunyai masa depan yang baik dalam pekerjaan ini. Ia berkata kepadaku, “Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembicara!” Dan inilah akhir daripada karierku yang singkat sebagai guru.

26 Juli 1926 aku membuka biro teknikku yang pertama, bekerjasama dengan seorang teman sekelas, Ir. Anwari. Aku tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk memasuki Ruang Keilmuan. Kehidupan segera memikulkan beban di atas pundakku dan melemparkan aku ke atas tumpukan sampah dan ke dalam pondok‐pondok yang bocor dan goyah. Kehidupan melemparkan daku ke pasar‐pasar. Kehidupan membuangku ke hutan‐hutan, ke kampung‐kampung dan sawah‐sawah. Aku tidak menjadi guru. Aku menjadi juru khotbah. Mimbarku adalah pinggiran jalan. Kumpulanku? Massa rakyat menggerumut yang sangat merindukan pertolongan. Di tahun 1926 aku mulai mengkhotbahkan nasionalisme terpimpin. Sebelum itu aku hanya memberikan kepada pendengarku kesadaran nasional lebih banyak daripada yang mereka ketahui sebelumnya. Sekarang aku tidak saja mengoyak‐oyak mereka untuk bangun, akan tetapi aku memimpin mereka. Aku menerangkan, bahwa sudah datang waktunya untuk menjelmakan suatu masyarakat baru yang demokratis sebagai ganti feodalisme yang telah bercokol selama berabad‐abad. Aku berkata kepada para pendengarku, “Kita tidak lagi akan membiarkan diri kita secara patuh mengikuti cara hidup yang akan membawa kita kepada kehancuran kita sendiri. Kehidupan yang terdiri dari kelas‐kelas, kasta‐kasta dan yang punya dan tidak punya menimbulkan perbudakan. Di dalam kehidupan modern manusia berjuang untuk meninggikan harkat kehidupan rakyat. Mereka yang tidak menghiraukan hal ini akan dibinasakan oleh rakyat banyak dan oleh bangsa‐bangsa yang berjuang untuk memperoleh haknya.
“Kita memerlukan persamaan hak. Kita telah mengalami ketidaksamaan selama hidup kita. Mari kita tanggalkan pemakaian gelar‐gelar. Walaupun saya dilahirkan dalam kelas ningrat, saya tidak pernah menyebut diriku raden dan saya minta kepada saudara‐saudara mulai dari saat ini dan untuk seterusnya supaya saudara‐saudara jangan memanggil saya raden. Mulai dari sekarang jangan ada seorangpun menyebutku sebagai Tedaking Kusuma Rembesing Madu “Keturunan Bangsawan”. Tidak, aku hanya cucu dari seorang petani. Feodalisme adalah kepunyaan masalah yang sudah dikubur. Feodalisne bukan kepunyaan Indonesia di masa yang akan datang.”
Sementara aku mendidik para pendengarku untuk menghabisi sistem feodal, aku melangkah selangkah maju, ialah ke bidang bahasa. Dalam bahasa Jawa saja terdapat 13 tingkatan yang pemakaiannya tergantung pada siapa yang dihadapi berbicara, sedang kepulauan kami mempunyai tidak kurang dari 86 dialek semacam itu.
“Sampai sekarang,” kataku, “Bahasa Indonesia hanya dipakai oleh kaum ningrat. Tidak oleh rakyat biasa. Nah, mulai dari hari ini menit ini mari kita berbicara dalam bahasa Indonesia. Hendaknya rakyat Marhaen dan orang bangsawan berbicara dalam bahasa yang sama. Hendaknya seseorang dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara‐saudaranya di pulau lain dalam bahasa yang sama. Kalau kita, yang beranak‐pinak seperti kelinci, akan menjadi satu masyarakat, satu bangsa, kita harus mempunyai satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.”
Sebelum ini, seorang Jawa dari golongan rendah tidak boleh sekali‐kali menanyakan kepada orang Jawa yang lebih tinggi derajatnya, ‘Apakah engkau memanggil saya?’ Dia tidak akan berani mengucapkan begitu saja perkataan “engkau” kepada orang yang lebih atas. Seharusnya ia memakai perkataan “kaki tuan” atau “kelom tuan”. Dia harus mengucapkan, “Apakah kelom tuan memanggil saya? “Tingkatan perhambaan semacam inipun dinyatakan dengan gerak. Aku menunjuk dengan jari telunjukku, akan tetapi orang yang lebih rendah tingkatnya dihadapanku akan menunjuk dengan ibu jari. Keramahan yang demikian itu memberikan kepada si penjajah suatu senjata rahasia yang membantu melahirkan suatu bangsa “cacing” dan “katak” seperti mereka menamakannya. Kamipun disebut sebagai “rakyat yang paling pemalu di dunia.”

Bertahun‐tahun kemudian aku tergila‐gila pada seorang Puteri yang muda dan cantik dari salah satu kraton di Jawa, akan tetapi penasehat-penasehatku menyatakan, bahwa aku sebagai orang yang telah bergabung dengan rakyat jelata tidak mungkin mengawininya. Sekalipun hatiku luka, mereka menunjukkan bagaimana aku telah memimpin pemberontakan melawan feodalisme, jadi tidak bisa sekarang memasuki golongan itu. Dan berakhirlah hubungan ini dengan suatu kisah percintaan secara platonis. Di kalangan kaum bangsawan di Jawa seorang isteri tidak pernah kehilangan derajatnya yang tinggi. Kalau ia mengawini seorang lelaki yang lebih rendah derajatnya, suaminya harus mengajukan permohonan untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bercintaan dengan isterinya sendiri, si suami yang boleh jadi bergelar raden, terlebih dulu harus meminta izin dari isterinya. Mungkin maksudnya baik. Akan tetapi, aku tidak dapat melihat Sukarno dalam kedudukan yang demikian. Di jaman Feodal kami tidak mempunyai bentuk panggilan yang luas seperti Mister, Mistres, Miss atau yang dapat mencakup seluruh lapisan dan tingkat seseorang. Ketika aku memaklumkan Bahasa Indonesia, kami memerlukan suatu rangkaian sebutan yang lengkap yang dapat dipakai secara tidak berubah‐ubah antara tua dan muda, kaya dan miskin, Presiden dan rakyat tani. Di saat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau Bapak, Bu atau Ibu dan Bung yang berarti saudara. Di jaman Revolusi Kebudayaan inilah aku mulai dikenal sebagai Bung Karno.

Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam tiga segi. Segi yang kedua adalah dalam kepercayaan. Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata‐mata kepada Tuhannya orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu melalui permulaan jalan yang menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku maka kemerdekaan bagi seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama. Ketika konsep keagamaanku meluas, ideologi dari Pak Tjokro dalam pandanganku semakin sempit dan semakin sempit juga. Pandangannya tentang kemerdekaan untuk tanah air kami semata‐mata ditinjau melalui lensa mikroskop dari agama Islam. Aku tidak lagi menoleh kepadanya untuk belajar. Juga kawan‐kawannya tidak lagi menjadi guruku. Sekalipun aku masih seorang pemuda, aku tidak lagi menjadi penerima. Aku sekarang sudah menjadi pemimpin. Aku mempunyai pengikut. Aku mempunyai reputasi. Aku sudah menjadi tokoh politik yang sederajat dengan Pak Tjokro. Dalam hal ini tidak terjadi pemutusan tiba‐tiba. Ini terjadi lebih mirip dengan pemisahan diri secara pelahan sedikit demi sedikit. Sekalipun antara Pak Tjokro dan aku terdapat perbedaan yang besar di bidang politik, akan tetapi antara kami tetap terjalin hubungan yang erat.

Orang Asia tidak menemui kesukaran untuk membedakan ideologi dengan peri‐kemanusiaan. Ketika seorang nasionalis bernama Hadji Misbach menyerang Pak Tjokro secara serampangan dalam suatu kongres, kuminta supaya dia minta ma’af kepada kawan lamaku itu. Hadji Misbach kemudian menyatakan penyesalannya. Menentang seseorang dalam bidang politik tidaklah berarti bahwa kita tidak mencintainya secara pribadi. Bagi kami, yang satu tidak ada hubungannya dengan yang lain. Hal ini tidak dapat diselami oleh pikiran orang Barat, tapi ini senada dengan mentalita orang Timur. Misalnya saja, kusebut Pak Alimin dan Pak Muso. Kedua-duanya sering bertindak sebagai guruku dalam politik ketika aku tinggal di rumah Pak Tjokro. Kemudian mereka berpindah kepada Komunisme, pergi ke Moskow dan belakangan di tahun 1948, setelah aku menjadi Presiden, mengadakan pemberontakan Komunis dan usaha perebutan kekuasaan. Mereka merencanakan kejatuhanku. Akan tetapi orang Jawa mempunyai suatu peribahasa, “Gurumu harus dihormati, bahkan lebih daripada orangtuamu sendiri.” Ketika Pak Alimin sudah terlalu amat tua dan sakit, aku mengunjunginya. Lalu surat‐surat kabar mengoceh, “Hee, lihat Sukarno mengunjungi seorang Komunis!”. Ya, Pak Alimin telah mencoba menjatuhkanku. Akan tetapi dia adalah salah‐seorang guruku di hari mudaku. Aku berterima kasih kepadanya atas segala yang baik yang telah diberikannya kepadaku. Aku berhutang budi kepadanya. Yang sama beratnya untuk dilupakan ialah kenyataan, bahwa dia adalah salah seorang perintis kemerdekaan. Seseorang yang berjuang untuk pembebasan tanah airnya —tak pandang bagaimana perasaannya terhadapku kemudian— berhak mendapat penghargaan dari rakyatnya dan dari Presidennya. Sama juga halnya dengan Pak Tjokro. Sampai di hari aku akan menutup mata untuk selama‐lamanya, aku akan tetap menulis namanya dengan hati yang lembut. Dalam bidang politik Bung Karno adalah seorang Nasionalis. Dalam kepercayaan Bung Karno seorang yang beragama. Akan tetapi Bung Karno mempunyai kepercayaan yang bersegi tiga. Dalam bidang ideologi, ia sekarang menjadi sosialis. Kuulangi bahwa aku menjadi sosialis. Bukan Komunis. Aku tidak menjadi Komunis. Masih saja ada orang yang berpikir bahwa Sosialisme sama dengan Komunisme. Mendengar perkataan sosialis mereka tidak dapat tidur. Mereka melompat dan memekik, “Haaa, saya sudah tahu! Bahwa Bung Karno seorang Komunis!” Tidak, aku bukan Komunis. Aku seorang Sosialis. Aku seorang Kiri. Orang Kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis, imperialis yang ada sekarang. Kehendak untuk menyebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat bercekcok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penyakit takut akan cita‐cita kiri, adalah penyakit yang kutentang habis‐habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial menjadi nihilisme. Bagaimana suatu negeri yang miskin menyedihkan seperti negeri kami dapat menganut suatu aliran lain kecuali haluan sosialis? Mendengar aku berbicara tentang demokrasi, seorang pemuda menanyakan apakah aku seorang demokrat. Aku berkata, “Ya, aku pasti sekali seorang demokrat.” Kemudian dia berkata, “Akan tetapi menurut pandangan saya tuan seorang sosialis.” Saya sosialis, jawabku. Ia menyimpulkan semua itu dengan, “Kalau begitu tentu tuan seorang sosialis demokrat.” Mungkin ini salah satu jalan untuk menamaiku.

Orang Indonesia berbeda dengan bangsa lain di dunia. Sosialisme kami adalah sosialisrne yang dikurangi dengan pengertian rnaterialistisnya yang ekstrim, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang terutama takut dan cinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu campuran. Kami menarik persamaan politik dari Declaration of Independence dari Amerika. Kami menarik persamaan spiritual dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Ke dalam campuran yang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional: Marhaenisme. Kemudian kami memercikkan ke dalamnya Gotong‐royong yang menjadi jiwa, inti daripada bekerja bersama, hidup bersama dan saling bantu‐membantu. Kalau ini dicampurkan semua, maka hasilnya adalah Sosialisme Indonesia. Konsepsi‐konsepsi ini, yang dimulai semenjak tahun duapuluhan dan tak pernah aku menyimpang daripadanya, tidak termasuk begitu saja dalam penggolongan sesuai dengan jalan pikiran orang Barat, tetapi memang orang harus mengingat, bahwa aku tidak mempunyai jalan pikiran Barat. Merubah rakyat sehingga mereka tergolong dengan baik dan teratur ke dalam kotak Barat tidak mungkin dilakukan. Para pemimpin yang telah mencoba, gagal dalam usahanya. Aku selalu berpikir dengan cara mentalita Indonesia. Semenjak dari sekolah menengah aku telah menjadi pelopor. Dalam hal politik aku tidak berpegang kepada salah satu contoh. Mungkin inilah yang menyebabkan, mengapa aku jadi sasaran dari demikian banyak salah pengertian. Aliran politikku tidak sama dengan aliran orang lain. Tapi disamping itu latar belakangku pun tidak bersamaan dengan siapapun juga. Nenekku memberiku kebudajaan Jawa dan Mistik.
Dari bapak datang Theosofisme dan Islamisme.
Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme.
Sarinah memberiku Humanisme.
Dari Pak Tjokro datang Sosialisme.
Dari kawan‐kawannya datang Nasionalisme.
Aku menambah renungan‐renungan dari Karl Marxisme dan Thomas Jeffersonisme.
Aku belajar ekonomi dari Sun Yat Sen.
Aku belajar kebaikan dari Gandhi.
Aku sanggup mensynthese pendidikan secara ilmu modern dengan kebudayaan animistik purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnya menjadi pesan‐pesan pengharapan yang hidup dan dapat dihirup sesuai dengan pengertian dari rakyat kampung. Hasil yang keluar dari semua ini dinamakan orang —dalam istilah biasa— Sukarnoisme.

Aku tumbuh dari Sarekat Islam, akan tetapi belum menukarnya dengan partai lain yang formil. Apa yang disebut organisasi politikku di tahun 1926 adalah pertumbuhan dari Bandung Studenten Club yang disponsori oleh universitas, agar para mahasiswa dapat bermain bridge atau bilyar. Ia didirikan untuk pesta‐pesta dan kegembiraan. Anak Bumiputera dibolehkan masuk club itu akan tetapi, setelah mengikutinya, aku menyadari bahwa kami tidak dapat menjadi anggota pengurus. “Saya tidak dapat menerima keadaan semacam itu,” kataku, “Saya akan keluar dari perkumpulan ini.” Seperti di Mojokerto, setiap orang main ikut‐ikutan dengan pemimpin. Pada waktu Sukarno keluar dari Bandung Studenten Club ini, anak Indonesia lainnya pun mengikutinya. Dengan lima orang anak Indonesia aku mendirikan Perkumpulan Studi. Aku memilih bahan bacaan yang bernilai seperti “Handelingen der Tweede Kamer van de Staten Generaal” (Kegiatan Tweede Kamer dari Staten Generaal Negeri Belanda) dari perpustakaan. Dan kami secara berganti‐ganti membacanya seminggu seorang. Pada setiap penutupan lima mingguan sekali kami mengadakan pertemuan —biasanya di rumahku — dan duduk sepanjang malam memperdebatkan pokok-pokok dari strategi yang ada di dalamnya. Orang selalu dapat mengetahui, kapan Bung Karno mempelajari buku itu. Kalimat‐kalimat yang perlu, diberi bergaris dibawahnya. Paragraf‐paragraf diberi lingkaran. Siapa saja yang membacanya setelah itu dapat melihat dengan mudah aliran pikiranku. Kutuliskan kritik‐kritikku dipinggir pinggir halaman. Aku memberi tanda halaman‐halaman yang kusetujui dan memberi catatan dibawah halaman‐halaman yang tidak kusetujui. Tadinya segar dan bersih dari rak perpustakaan, jilid‐jilid yang berharga itu kemudian tidak lagi bersih sesudah itu. Ke dalam Algemeene Studiclub ini hinggaplah intellektuil‐intellektuil muda bangsa Indonesia, banyak yang baru saja kembali dari Negeri Belanda dengan ijazah kesarjaaannya yang gilang‐gemilang ditangan mereka. Pertukaran buah‐pikiran dalam bidang politik yang aktif adalah kegiatan kami yang pokok. Cabang‐Cabang dari Studieclub ini tumboh di Solo, Surabaya dan kota lainnya di Jawa. Kami kemudian menerbitkan majalah perkumpulan — Suluh Indonesia Muda — dan, sebagaimana dapat diduga, Ketua Sukarno adalah penyumbang tulisan yang pertama. Karena aku begitu terikat dalam soal-soal politik sehingga kurang memikirkan soal‐soal lain, maka biro teknikku merosot sehingga ia mati sama sekali. Pikiranku terlalu sangat tertuju kepada segi yang dalam dari kehidupan ini daripada memikirkan yang tidak berarti, sehingga dimalam terang bulan yang penuh gairah aku bahkan lebih memikirkan isme daripada memikirkan Inggit. Pada waktu muda‐mudi yang lain menemukan kasihnya satu sama lain, aku mendekam dengan “Das Kapital”. Aku menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jadi aku mendekati achir daripada windu yang ketiga. Sewindu adalah suatu jangka waktu yang lamanya delapan tahun. Tahun 1901 sampai 1909 adalah windu dengan pemikiran kanak‐kanak. 1910 sampai 1918 adalah windu pengembangan. 1919 sampai 1927 windu untuk mematangkan diri. Aku sudah siap sekarang.

BAB VI : Marhaenisme


AKU baru berumur 20 tahun ketika suatu ilham politik yang kuat menerangi pikiranku. Mula‐mula ia hanya berupa kuncup dari suatu pemikiran yang mengorek‐ngorek otakku, akan tetapi tidak lama kemudian ia menjadi landasan tempat pergerakan kami berdiri. Di kepulauan kami terdapat pekerja-pekerja yang bahkan lebih miskin daripada tikus gereja dan dalam segi keuangan terlalu menyendihkan untuk bisa bangkit di bidang sosial, politik dan ekonomi. Sungguhpun demikian masing masing menjadi majikan sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Dia menjadi kusir gerobak kudanya, dia menjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelayan-nelayan yang bekerja sendiri dengan alat‐alat —seperti tongkat kail, kailnya danperahu— kepunyaan sendiri. Dan begitupun para petani yang menjadi pemilik tunggal dari sawahnya dan pemakai tunggal dari hasilnya. Orang‐orang semacam ini meliputi bagian terbanyak dari rakyat kami. Semua menjadi pemilik dari alat produksi mereka sendiri, jadi mereka bukanlah rakyat proletar. Mereka punya sifat khas tersendiri. Mereka tidak termasuk dalam salah satu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnya? Itulah yang menjadi renunganku berhari‐hari, bermalam‐malam dan berbulan‐bulan. Apakah sesungguhnya saudaraku bangsa Indonesia itu? Apakah namanya para pekerja yang demikian, yang oleh ahli ekonomi disebut dengan istilah “Penderita Minimum”?.

Di suatu pagi yang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti kuliah, ini bukan tidak sering terjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal‐soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi. Sementara mendayung sepeda tanpa tujuan —sambil berpikir— aku sampai di bagian selatan kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat dimana orang dapat menyaksikan para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing‐masing luasnya kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena beberapa hal perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya sudah lusuh. Gambaran yang khas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakyatku. Aku berdiri disana sejenak memperhatikannya dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Aku bertanya dalam bahasa Sunda;
“Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?”.
Dia berkata kepadaku, “Saya, juragan.”
Aku bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama‐sama dengan orang lain?”.
“O, tidak, gan. Saya sendiri yang punya.”
“Tanah ini kaubeli?”.
“Tidak. Warisan bapak kepada anak turun temurun.”
Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali ….. aku menggali secara mental. Pikiranku mulai
bekerja. Aku memikirkan teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanyaku semakin bertubi‐tubi pula.
“Bagairnana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apa ka’il kepunyaanmu juga?”
“Ya, gan”
“Dan cangkul?”
“Ya, gan.”
“Bajak?”
“Saya punya, gan.”
“Untuk siapa hasil yang kaukerjakan?”
“Untuk saya, gan.”
“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”
Ia mengangkat bahu sebagai membela diri. “Bagaimana sawah yang begini kecil bisa cukup untuk seorang isteri dan empat orang anak?”
“Apakah ada yang dijual dari hasilmu?” tanyaku.
“Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
“Kau mempekerjakan orang lain?”
“Tidak, juragan. Saya tidak dapat membayarnya.”
“Apakah engkau pernah memburuh?”
“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, akan tetapi jerih payah saya semua untuk saya.”
Aku menunjuk ke sebuah pondok kecil, “Siapa yang punya rumah itu?”
“Itu gubuk saya, gan. Hanya gubuk kecil saja, tapi kepunyaan saya sendiri.”
“Jadi kalau begitu,” kataku sambil menyaring pikiranku sendiri ketika kami berbicara,
“Semua ini engkau punya?”
“Ya, gan.”
Kemudian aku menanyakan nama petani muda itu. Ia menyebut namanya. “Marhaen.”

Marhaen adalah nama yang biasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib malang seperti itu! Semenjak itu kunamakan rakyatku rakyat Marhaen. Selanjutnya di hari itu aku mendayung sepeda berkeliling mengolah pengertianku yang baru. Aku memperlancarnya. Aku mempersiapkan kata‐kataku dengan hati‐hati. Dan malamnya aku memberikan indoktrinasi mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku. “Petani‐petani kita mengusahakan bidang tanah yang sangat kecil sekali. Mereka adalah korban dari sistim feodal, dimana pada mulanya petani pertama diperas oleh bangsawan yang pertama dan seterusnya sampai ke anak cucunya selama berabad‐abad. Rakyat yang bukan petanipun menjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek moyangnya telah dipaksa untuk hanya bergerak di bidang usaha yang kecil sekedar bisa memperpanjang hidupnya. Rakyat yang menjadi korban ini, yang meliputi hampir seluruh penduduk Indonesia, adalah Marhaen.” Aku menunjuk seorang tukang gerobak, “Engkau … engkau yang di sana. Apakah engkau bekerja di pabrik untuk orang lain?”, Tidak,” katanya. “Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan ke arah seorang tukang sate. “Engkau … engkau tidak punya pembantu, tidak punya majikan engkau juga seorang Marhaen.

Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat‐alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat‐alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. “Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.” Perkataan “Marhaenisme” adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami. Begitupun nama tanah air kami harus menjadi lambang. Perkataan “Indonesia” berasal dari seorang ahli purbakala bangsa Jerman bernama Jordan, yang beladar di negeri Belanda. Studi khususnya mengenai Rantaian Kepulauan kami. Karena kepulauan ini secara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah “Kepulauan dari India”. Nesos adalah bahasa Yunani untuk perkataan pulau‐pulau, sehingga menjadi Indusnesos yang akhirnya menjadi Indonesia. Ketika kami merasakan perlunya untuk menggabungkan pulau‐pulau kami rnenjadi satu kesatuan yang besar, kami berpegang teguh pada nama ini dan mengisinya dengan pengertian‐pengertian politik hingga iapun menjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terjadi ditahun 1922‐1923. Dalam tahun‐tahun inilah, ketika kami sebagai bangsa yang dihinakan diperlakukan seperti sampah di atas bumi oleh orang yang menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa‐apa. Ditindas dibawah tumit pada setiap kali, bahkan kami dilarang mengucapkan perkataan “lndonesia”. Telah terjadi sekali ditengah berapi‐apinya pidatoku, kata “lndonesia” melompat dari mulutku. “Stop …. stop ….. “perintah polisi. Mereka meniup peluitnya. Mereka memukulkan tongkatnya. “Dilarang sama sekali mengucapkan perkataan itu …… hentikan pertemuan.” Dan pertemuan itu dengan segera dihentikan.

Di Surabaya aku tak ubah seperti seekor burung yang mencari‐cari tempat untuk bersarang. Akan tetapi di Bandung aku sudah menjadi dewasa. Bentuk fisikku berkembang dengan sewajarnya. Bintang matinee Amerika yang menjadi idaman di jaman itu adalah Norman Kerry dan, supaya kelihatan lebih tua dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sayang, kumisku tidak melengkung ke atas pada ujung‐ujungnya seperti kumis bintang itu. Dan isteriku menyatakan, bahwa Charlie Chaplinlah yang berhasil kutiru. Akhirnya usahaku satu‐satunya untuk meniru seseorang berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan.

Di tahun 1922 aku untuk pertama kali mendapat kesukaran. Ketika itu diadakan rapat besar di suatu lapangan terbuka di kota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu rapat raksasa yang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga wakil-wakil dari setiap partai yang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tujuan, yaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus. Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanya mendengarkan. Akan tetapi tiba‐tiba terasa olehku suatu dorongan yang keras untuk mengucapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua membicarakan omong kosong. Seperti biasa mereka meminta‐minta. Mereka tidak menuntut. Naiklah tangan yang berapi‐api dari Sukarno, mercusuar dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan berpidato dihadapan rapat.
“Saya ingin berbicara,” aku berteriak.
“Silakan,” ketua berteriak kembali.
Disana ada P.I.D., Polisi Rahasia Belanda, yang bersebar di segala penjuru Tepat di mukaku berdiri seorang polisi bermuka merah mengancam dan berbadan besar. Ini adalah alat yang berkuasa yaitu kulit putih. Hanya dia sendiri yang dapat menyetopku. Dia seorang dirinya, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinya, dengan kekuasaan yang ada padanya dapat mencerai‐beraikan pertemuan kami dan menjebloskanku ke dalam tahanan. Akan tetapi aku masih muda, tidak mau peduli dan penuh semangat. Jadi naiklah aku ke mimbar dan mulai berteriak;
“Mengapa sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak? Ia meledak oleh karena lobang kepundannya tersumbat. Ia meledak oleh karena tidak ada jalan bagi kekuatan‐kekuatan yang terpendam untuk membebaskan dirinya. Kekuatan‐kekuatan yang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit dan ….. DORRR!! Keseluruhan itu meletus. Kejadian ini tidak ada bedanya dengan Gerakan Kebangsaan kita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mencari jalan keluar bagi perasaan‐perasaan kita yang sudah penuh, maka saudara‐saudara, nyonya‐nyonya dan tuan‐tuan, suatu saat akan terjadi pula ledakan dengan kita. Dan rnanakala perasaan kita meletus, Den Haag akan terbang ke udara. Dengan ini saya menantang Pemerintah Kolanial yang membendung perasaan kita.”
Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menuju ke depan untuk mencegahku terus berbicara, akan tetapi aku begitu bersemangat dan menggeledek terus.
“Apa gunanya kita puluhan ribu banyaknya berkumpul disini jikalau yang kita kerjakan hanya menghasilkan petisi? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinya supaya mendirikan sebuah sekolah untuk kita? Bukankah itu suatu Politik Berlutut? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Yang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, yang dengan memakai dasi hitam menerima delegasi yang membungkuk‐bungkuk dan menunjukkan penghargaan kepadanya dan menyerahkan kepada pertimbangannya suatu petisi? Dan merendah diri memohon pengurangan pajak? Kita merendah diri … memohon, merendah diri, memohon ….. Inilah kata‐kata yang selalu dipakai oleh pemimpin‐pemimpin kita.”
“Sampai sekarang kita tidak pernah menjadi penyerang. Gerakan kita bukan gerakan yang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan yang meminta‐minta. Tak satupun yang pernah diberikannya karena kasihan. Marilah kita sekarang menjalankan politik percaya pada diri sendiri dengan tidak mengemis‐ngemis. Hayo kita berhenti mengemis. Sebaliknya, hayo kita berteriak, "Tuan Imperialis, inilah yang kami TUNTUT!"”
Kemudian, polisi‐polisi yang maha kuasa dan maha kuat ini, yang punya kekuasaan untuk menghentikan rapat ini, bertindak. Mereka menyetop rapat dan menyetopku. Heyne, Kepala Polisi Kota Bandung, sangat marah. Sambil menyiku kanan‐kiri melalui rakyat yang berdiri berjejal‐jejal, ia melompat ke atas mimbar, menarikku ke bawah dan mengumumkan,
“Tuan Ketua, sekarang saya menyetop seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan‐tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !”.

Begitu pertama kali Sukarno membuka mulutnya, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan cepat aku menjadi buah tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku memperoleh inti pengikut yang kuat. Akan tetapi, sayang, akupun mengembangkan pengikut yang banyak diantara polisi Belanda. Kemanapun aku pergi mereka ikuti. Maka menjalarlah dari mulut ke mulut: “Di Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengacau. Awasi dia.”

Dengan satu pidato si Karno —yang pendiam, yang suka menarik diri dan dicintai membuat musuh musuh jadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah dicoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku yang pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil ke kantor Presiden universitas.
“Kalau engkau ingin melanjutkan pelajaran disini,” Professor Klopper memperingatkan, “Engkau harus bertekun pada studimu. Saya tidak keberatan jika seorang mahasiswa mempunyai cita‐cita politik, akan tetapi haruslah diingat bahwa ia pertama dan paling utama memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Engkau harus berjanji, mulai hari ini tidak akan ikut campur dalam gerakan politik.”
Aku tidak berdusta kepadanya. Aku menerangkan persoalanku dengan jujur.
“Professor, apa yang akan saya janjikan ialah, bahwa saya tidak akan melalaikan pelajaran‐pelajaran yang tuan berikan dalam kuliah.” Bukan itu yang saya minta kepadamu. Hanya itu yang dapat saya jandjikan, Professor. Akan tetapi janji ini, saya berikan dengan sepenuh hati. Saya berjanji dengan kesungguhan hati untuk menyediakan lebih banyak waktu pada studi saya.”
Ia sangat baik mengenai hal ini. “Apakah kata‐katamu dapat saya pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum selama masih dalam studi?”
“Ya, Professor,” aku berjanji, “Tuan memegang ucapan saya yang sungguh‐sungguh.” Dan janji ini kupegang teguh.

Berbicara di hadapan massa bagiku lebih daripada segala‐galanya untuk mana aku hidup. Oleh karena aku tidak dapat berbicara membangkitkan semangat rakyat jelata dalam keadaan sesungguhnya maka kulakukanlah ini dalam khayalan. Pada suatu malam rumah Inggit yang disediakan juga untuk bayar makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat tidurku dengan seorang pelajar. Di tengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu yang bernyala‐nyala, seakan‐akan aku berbicara dihadapan 10.000 orang yang bersorak‐sorai dengan gegap gempita. Sambil berdiri tegak aku menganggap tempat tidurku sebagai mimbar dan aku mulai menggegap geletar.
“Engkau tahu apakah Indonesia?” aku berteriak ke punggung temanku setempat tidur.
“Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah ini. Indonesia adalah langit yang biru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih yang lamban itu. Indonesia adalah udara yang hangat ini. Saudara‐saudaraku yang tercinta, laut yang menderu memukul‐mukul ke pantai di cahaya senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak‐anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga‐bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.
Setelah beberapa jam mendengarkan perkataanku yang membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan
tidur daripada mendengarkan golakan perasaanku. Jam dua tengah malam dia tertidur nyenyak ditengah-tengah pidatoku yang mengacau. Aku kehabisan tenaga sama sekali sehingga ditengah pidato pembelaanku yang bersemangat akupun terhempas lena. Esok paginya kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan lampu. Kelambu kami hampir hangus sama sekali. Lampu itu menyala sepanjang malam sampai menjilat ke bagian bawah dan kami kedua‐duanya hampir kelemasan oleh udara dan asap yang hebat. Tapi untunglah. Kami tidak turut terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak menjadi Juru selamat daripada bangsanya di kemudian hari untuk membebaskan rakyatnya, haruslah ia menyelamatkan dirinya sendiri lebih dulu.

Aku masih terlalu banyak mencurahkan waktu untuk pemikiran politik, jadi tak dapatlah diharapkan akan menjadi mahasiswa yang betul‐betul gemilang. Kenyataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang sungguh mengherankan. Siapa yang belajar? Bukan aku. Tidak pernah. Aku mempunyai ingatan seperti bayangan gambar dan dalam pada itu aku terlalu sibuk memompakan soal‐soal politik ke kepalaku, sehingga tidak tersisa waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begitu kuat dalam ilmu pasti. Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi jangan tanya. Kleinste Vierkanten atau yang dinamakan Geodesi, semacam penyelidikan tanah secara ilrnu pasti dimana orang mengukur tanah dan belajar membaginya dalam kaki persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk ujian ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain curang. Tapi hanya sedikit. Kami semua bermain curang dengan berbagai jalan. Ambillah misalnya pelajaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam pelajaran ini. Dalam waktu ujian dosen berdalan pulang‐balik diantara meja‐meja memperhatikan setiap orang. Segera setelah ia berada di bagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnya pada kami, salah seorang yang berdekatan mendesis,
“Ssss, Karno, buatkan bagan untukku, kau mau?”
Aku bertukar kertas dengan dia. dengan terburu‐buru membuat gambar yang kedua dan dengan cepat menyerahkan kembali kepadanya. Kawan‐kawanku membalas usaha ini dalam pelajaran Kleinste Vierkanten kalau Professor membuat tiga pertanyaan di papan tulis dan hanya memberi kami waktu 45 menit untuk mengerjakannya. Kawan‐kawan menempatkan kertasnya sedemikian rupa di sudut bangku, sehingga aku dapat dengan mudah menyalin jawabannya. Sudah tentu aku mencontoh dari mahasiswa yang lebih pandai dalam ilmu pasti. Cara ini bukanlah semata‐mata apa yang dinamakan orang berbuat curang. Di Indonesia ini adalah wajar jika digolongkan dalam apa yang kami sebut kerja‐sama yang erat. Gotong‐royong. Alasan mengapa aku gagal dan hanya memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik licik terhadap kami. Ia mengejutkan kami dengan ujian lisan, dimana kami menempuhnya satu persatu. Hanya Professor dan seorang mahasiswa yang ada dalam ruangan. Aku karenanya jatuh. Semua kuliah diajarkan dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memakimaki dalam bahasa Belanda. Kalau aku mendoa kehadirat Tuhan Yang MahaKuasa, maka ini kulakukan dalam bahasa Belanda. Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan masyarakat penjajahan Belanda. 

Pengetahuan yang kupelajari adalah pengetahuan teknik kapitalis. Misalnya, pengetahuan tentang sistem irigasi. Yang dipelajari bukanlah tentang bagaimana caranya mengairi sawah dengan jalan yang terbaik. Yang diberikan hanya tentang sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan Imperialisme dan Kapitalisme. Irigasi dipelajari tidak untuk memberi makan rakyat banyak yang kelaparan, akan tetapi untuk membikin gendut pemilik perkebunan. Pelajaran kami dalam pembuatan jalan tidak mungkin dapat menguntungkan rakyat. Jalan‐jalan yang dibuat bukan melalui hutan dan antar‐pulau sehingga rakyat dapat berjalan atau bepergian lebih mudah. Kami hanya diajar
merencanakan jalan‐jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan, jadi pabrik‐pabrik
dengan demikian dapat mengangkut hasilnya secara maksimal dan komunikasi yang cukup antara kapal-kapal yang berlayar. Ambillah ilmu pasti. Universitas manapun tidak memberi pelajaran rantai ukuran. Kami diberi. Ini adalah sebuah pita yang panjangnya 20 meter yang hanya dipakai oleh para pengawas di perkebunan‐perkebunan. Diruangan bagan, kalau kami membuat rencana kota teladan, kamipun harus menunjukkan tempat kedudukan “Kabupaten”, yaitu tempat tinggal Bupati yang mengawasi rakyat desa membanting tulang.

Di minggu terakhir ketika diadakan pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari Sekolah Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E. “Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami?” tanyaku. “Sekolah Teknik Tinggi ini,” ia menerangkan, didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya merasa perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.” Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal polilik Imperialisme Belanda disini?
“Ya, tuan Sukarno, itu benar,” ia menjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh hidupku untuk menghancurkan kekuasaan Kolonial, rupanya aku harus berterima‐kasih pula kepada mereka atas pendidikan yang kuterima. Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia yang berhasil bersama‐sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei 1926 aku memperoleh promosi dengan gelar “Ingenieur”. Ijazahku dalam jurusan teknik sipil menentukan, bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerjaan jalan raya dan pengairan. Aku sekarang diberi hak untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sarjana teknik kepadaku, Presiden universitas berkata;
“Ir. Sukarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu‐satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata‐kata ini.

BAB V : Bandung Gerbang Ke Dunia Putih


MINGGU terakhir bulan Juni tahun 1921, aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Jadi dapat dibayangkan, betapa menyenangkan masa yang kulalui untuk beberapa waktu. Salah satu bagian daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian peci, kopiah beludru hitam yang menjadi tanda pengenalku, dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaya. Sebelumnya telah terjadi pembicaraan yang hangat karena apa yang menamakan dirinya kaum intelligensia, yang menjauhkan diri dari saudara‐saudaranya rakyat biasa, merasa terhina jika memakai blangkon, tutup kepala yang biasa dipakai orang jawa dengan sarung, atau peci yang biasa dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka lebih menyukai buka tenda daripada memakai tutup kepala yang merupakan pakaian sesungguhnya dari orang Indonesia. Ini adalah cara dari kaum terpelajar ini mengejek dengan halus terhadap kelas‐kelas yang lebih rendah. Orang‐orang ini bodoh dan perlu belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak jika tidak menjatuhkan diri dengan mereka. Sekalipun tidak seorang juga yang melakukan ini diantara kaum terpelajar, aku memutuskan untuk rnempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata.

Dalam pertemuan selanjutnja kuatur untuk memakai peci, pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkatakata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang‐terangan memang memerlukan keberanian. Sambil berlindung di belakang tukang sate di jalanan yang sudah mulai gelap dan menunggu kawan‐kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu‐ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku sendiri “Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpinkah engkau ”, “Aku pemimpin,” jawabku menegaskan. “Kalau begitu, buktikanlah,” kataku lagi pada diriku. “Hayo maju. Pakailah pecimu. Tarik napas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata‐kata. Di saat itu nampaknya lebih baik memecah kesunyian dengan buka bicara, “Janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada diatas rakyat.” Mereka masih saja memandang. Aku membersihkan kerongkongan. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci yang memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja‐pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita. Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda ‘pet’ berarti kupiah. ‘Je’ maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya ‘petje’. Hayolah saudarasaudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi‐tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung dengan peciku yang memberikan pemandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan. Kalau sekarang peci itu bagiku lebih rnerupakan sebagai lambang untuk pertahanan diri. Sesungguhaya, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mencuci rarnbutnya setelah dia berhubungan dengan seorang perempuan, maka kawan‐kawan menggangguku, “Hei Sukarno, itu barangkali yang membikin Bung botak.” Apapun alasannya, aku gembira karena telah mempunyai pandangan ke depan 44 tahun yang lalu untuk membikin peci ini begitu hebat, sehingga masyarakat sekarang menganggap tidak pantas jika membuka peci di muka umum.

Pak Tjokro mempunyai seorang kawan lama di Bandung. Dan orang ini telah sering mendengar tentang pemuda yang rnendapat perlindungan dari Pak Tjokro. Ketika aku pindah dari Jawa Timur ke daerah Jawa Barat ini, Pak Tjokro telah megusahakan tempatku menginap di rumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihat‐lihat kota, rumah mana yang akan menjadi tempat tinggal kami selama empat tahun begitulah menurut perkiraanku di waktu itu. Aku merasa hawanya dingin dan wanitanya cantik‐cantik. Kota Bandung dan aku dapat saling menarik dalam waktu yang singkat. Seorang laki‐laki yang sudah setengah baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Sanusi datang sendiri menjemputku dan membawaku kerumahnya. Dengan segera aku mengetahui, bahwa perjalanan pendahuluan ini tidaklah sia‐sia. Sekalipun aku belum memeriksa kamar, tapi jelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan yang utama sedang berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap, bentuk badannya nampak jelas dikelilingi oleh cahaya lampu dari belakang. Perawakannya kecil, sekuntum bunga merah yang cantik melekat di sanggulnya dan suatu senyuman yang menyilaukan mata. Ia isteri Haji Sanusi, Inggit Garnasih. Segala percikan api, yang dapat memancar dari seorang anak duapuluh tahun dan masih hijau tak berpengalaman, menyambar‐nyambar kepada seorang perempuan dalam umur tigapulahan yang sudah matang dan berpengalaman. Di saat pertama aku melangkah melalui pintu masuk aku berpikir, “Aduh, luar biasa perempuan ini.” Aku sadar, lebih baik aku cepat‐cepat berhenti mengingatnya. Karena itu ingatan kepada nyonya rumah itu kuhilangkan dari pikiranku —untuk sementara— kemudian menyuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik Tinggi mengejar gelar Insinjur, bukan untuk merusak perkawinan orang.

Di waktu sekarang kami mempunyai Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaya, Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan dan berlusin‐lusin universitas penuh sesak menurut kemampuannya. Akan tetapi pada waktu aku memasuki Sekolah Teknik Tinggi kami hanya 11 orang anak Indonesia. Aku termasuk salah seorang dari 11 orang yang berrnuka hitam, terapung‐apung kian kemari dalam lautan kulit putih berarnbut merah, berjerawat dan bermata hijau seperti kucing. Seperti dugaan kami, anak‐anak Belanda tidak mau tahu dengan kami di dalam kampus itu. Kalaupun rnereka memberi perhatian kepada kami, itu hanya untuk membusukkan kami atau menyorakkan, “Hei kamu, anak inlander bodoh, mari sini!.” Aku tidak tahu kekuatan apa yang ada padaku. Aku hanya tahu, bahwa sekalipun aku tidak mengucapkan sepatah kata, kehadiranku saja sudah cukup untuk menutup mulut orang‐orang yang menghina, lalu menghentikan perintah‐perintahnya. Kami membanting tulang di Sekolah. Pekerjaan rumah banyak sekali. Kuliah‐kuliah yang diberikan enam hari dalam seminggu ditambah dengan ujian tertulis setiap triwulan selama sebulan penuh, sungguh‐sungguh rasanya seperti akan mematahkan tulang punggung karena bertekun. Waktuku tidak banyak untuk Utari. Akupun tidak banyak mempunyai persamaan dengan dia. Selagi aku belajar ilmu pasti, ilmu alam dan mekanika, yang bernama isteriku itu berada di pekarangan belakang bermain dengan kawan‐kawan perempuannya. Selagi aku mempidatoi perkumpulan pemuda di waktu malam, bayi yang telah kukawini bergelut dengan seorang anak, kemenakan nyonya Inggit. Kami menempuh jalan masing‐masing. Dia masih hijau sekali. Sifat pemalunya terlalu berkelebihan, sehingga jarang berbicara denganku, kalaupun ada. Kami tidur berdampingan di satu tempat tidur, tapi secara jasmaniah kami sebagai kakak beradik. Di Bandung dia jatuh sakit. Sementara dia terbaring dengan payah aku merawatnya. Berkali‐kali aku melap tubuhnya yang panas dengan alkohol, dari ujung kepala sampai ke ujung jari kakinya, namun tak sekalipun aku menjamahnya. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan jasmani. Kami bahkan dengan setulus hati tidak mengidamkan satu sama lain dalam arti cinta antara laki‐laki dan dara yang sebenarnya. Maksudku, dia tidak mernbenciku dan aku tidak membencinya, akan tetapi ini bukanlah perkawinan yang lahir dari perasaan berahi yang menyala‐nyala. Tidak banyak kesempatan untuk menggunakan waktu bagi kesenangan diri, oleh karena seluruh jiwa dan ragaku segera penuh dengan berbagai kesukaran.

Setelah tinggal di Bandung selama dua bulan, surat kabar memuat beritaberita besar tentang kegiatan revolusioner yang terakhir, aksi pemogokan di Garut. Kejadian ini dianggap sebagai persoalan afdeling, yaitu persoalan daerah. Pemerintah Kolonial sudah dibikin susah oleh pertumbuhan Nasionalisme yang pesat. Nyamuk celaka yang baru mendengung‐dengung di tahun 1908 dengan semboyan‐semboyan politik tanpa kekerasan, sekarang telah menjadi besar dan mengandung racun ketidakpuasan dengan gigitannya yang mematikan. Para pekerja sudah diorganisir; rnereka menuntut hak; menuntut undang‐undang perburuhan yang menjamin jam kerja yang lebih pendek daripada 18 jam; menuntut upah yang pantas dan menuntut suatu masyarakat yang bekerja tanpa “Exploitation de l’homme par l’homme”. Di Indonesia telah bertunas organisasi para pekerja seperti Persatuan Buruh Gula dan Serikat Pekerja Rumah Gadai. Dalam jaman dimana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat‐serikat buruh untuk mencoba memperbaiki nasibnya yang menyedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalamusahanya untuk mematikan “sifat‐radikal” dan “Komunisme”, sebagaimana mereka menamakannya, mengeluarkan undang‐undang baru, Artikel 161. Yaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan, bahwa barangsiapa yang menghasut seseorang untuk melakukan pemogokan diancam dengan hukurnan enam tahun penjara. Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkeyakinan bahwa pemogokan di Garut dipupuk oleh Sarekat Islam. Di hari itu juga mereka menahan Tjokroaminoto.

Keluarga Pak Tjokro sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku juga. Apa akal … Apa akal …. Apakah aku akan maju terus dan memikirkan diri sendiri serta apa yang kuharapkan dapat tercapai di hari esok? Ataukah aku akan mundur ke belakang dan memikirkan Pak Tjokro dan apa yang telah dikerjakannya untukku di hari kemarin? Dihadapanku terentang jalan raya berlapiskan emas yang menuju kepada ijazah sekolah tinggi. Dibelakangku terhampar jalanan kembali menuju kamar yang gelap dan kehidupan yang suram. Soalnya adalah mana yang lebih penting mana yang lebih mudah dapat dikorbankan oleh seorang anak Bumiputera? Gerbang menuju dunia putihkah? Atau mengorbankan kesetiaan kepada prinsipnyakah? Bagiku tidak ada kesangsian jiwa. “Saya akan meninggalkan Bandung besok menuju Surabaya, “dengan tegas kusampaikan kepada nyonya Inggit di dapur esok paginya.
“Untuk berapa lama?” tanyanya.
“Saya tidak tahu. Barangkali untuk selama‐lamanya. Ini tergantung kepada lamanya hukuman Pak Tjokro. Apakah enam bulan atau dua puluh tahun, selama itu pula saya harus berbuat apa yang harus saya perbuat.”
Ia menjediakan kopi tubruk, kopi hitam pekat yang tak dapat kutinggalkan, dan tangannya gemetar sedikit.
“Dengan meninggalkan sekolah ada kemungkinan engkau melepaskan segala harapan untuk mencapai cita‐citamu,” hanya itu ucapannya.
“Saya menyadari hal itu. Saya juga menyadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saya anak tertua dari keluarganya. Tapi soalnya bukan itu saja, lebih lagi dari itu. Saya harus berbakti pada orang yang kupuja itu dan kepada prinsipku.”
“Tapi isterinya yang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan,” ia mengemukakan.
“Anaknya juga tidak memberi kabar apa‐apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau datang.”
“Saya harus pergi. Kurasakan dalam dadaku, bahwa itu menjadi tugas saya …. Tidak! Saya rasakan ini sebagai hak istimewaku untuk bisa menyelamatkan mercusuar ini yang telah menunjukkan jalan kepadaku.” Aku memperhatikan bubuk kopi turun hingga ia mengendap ke dasar cangkir.
“Saya mendapat kabar, bahwa penahanan terhadap Pak Tjokro dua hari yang lalu itu tidak diduga samasekali. Belanda mendadak menggedor rumahnya di tengah malam buta dan menggiringnya dengan ujung bajonet ke dalam tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga yang dicintainya. Dan tak seorangpun yang akan mengawasi mereka. Jadi nampaknya jelas bagimu, bahwa dari semua pengikutnya yang jumlahnya jutaan orang itu hanya engkau yang akan memikul kewadjiban itu diatas pundakmu?,”
“Ya, itu kewajiban saya. Dia mergulurkan tangannya pada waktu saya memerlukan rumah dan tempat berteduh. Sekarang saya harus berbuat begitu pula kepadanya Mengejar kehidupan sendiri, sementara orang yang sudah diakui keluarga berada dalam kesusahan bukanlah cara orang Indonesia.”
“Maksudmu?,” katanya lunak.
“Bahwa itu bukanlah cara Soekarno.”

Di pagi itu juga aku melaporkan keberhentianku mengikuti kuliah. Presiden dari Sekolah Teknik Tinggi, Professor Klopper, rupanya kuatir terhadap tindakanku ini.
“Sudah menjadi kebiasaanmu, bahwa seluruh keluarga memberikan korban mereka untuk meneruskan pendidikan dari salah seorang anggotanya yang berbakat, bukan?” ia menanyaku dengan ramah.
“Ya, tuan. Saya kira, bahkan kelaparan pun tak dapat mencegah keluarga saya mengadakan biaya yang perlu bagi pendidikan anaknya. Sebagai mantri guru bapak membanting tulang seperti pekerja lainnya. Ibu duduk berjam‐jam lamanya melukis kain batik sampai tengah malam hingga pelita dan pemandangan matanya menjadi samar. Supaya dapat mengumpulkan dengan susah payah uang 300 rupiah untuk uang kuliah setahun, orangtua saya baru‐baru ini menambah orang bayar makan. Kakak saya dan suaminya juga membantu setiap bulan.”Kalau dibelakang hari,” Professor Klopper melanjutkan, “Engkau hanya ditempatkan sebagai pekerja di lapangan, bagaimana engkau membayar kembali kepada orang‐orang yang menyokongmu selama belajar?”,
“Itu bukanlah kebiasaan kami,” aku menerangkan, ”Mereka akan marah kalau saya mencoba yang demikian. Cara kami sebaliknya. Kami harus selalu bersedia membantu orang yang pernah menolong kita di waktu ia memerlukannya. Itulah yang dinamakan gotong‐royong. Saling membantu. Dan karena itulah saya harus pulang.”
Di hari berikutnya aku mengumpulkan isteriku, mengumpulkan segala harapan dan idamanku dan membawa semua ia pulang ke Surabaya. Supaya dapat membantu rumah tangga aku bekerja sebagai klerk di stasiun kereta api. Kedudukanku adalah sebagai Raden Sukarno, BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie.” Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tujuh jam dalam sehari, karena kantorku yang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun yang menyedihkan. Tugas beratku yang utama adalah membuat daftar gaji untuk para pekerja. Oleh karena bekerja sehari penuh, aku tidak punya kesempatan mengulangi pelajaran. Akan tetapi ada baiknya, karena tempat yang luar biasa ramainya ini menjadi tempat keluar masuk kereta api yang datang dari kota‐kota lain seperti Madiun, Djogja, Malang, Bandung dan aku dapat berhubungan dengan massa pekerja. Tak pernah aku menyia‐nyiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme. Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125 kuserahkan kepada keluarga Pak Tjokro. Di waktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka menonton film dengan apa yang masih tersisa dari uangku yang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang‐barang kecil seperti kartu pos bergambar. Hanya ini yang dapat kuadakan, akan tetapi besar artinya bagi mereka. Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku menjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnya. Aku menjalankan segala tugas orangtua, sampai kepada menyunatkan Anwar. Aku sendiri mencari obat, mencari orang alim dan menyelenggarakan selamatannya. Bertahun‐tahun kemudian, setelah Anwar mendjadi seorang tokoh politik, aku mengganggunya, “Nah, jangan kaulupakan, akulah yang menyunatkanmu.”

Pada waktu Pak Tjokro dijatuhi hukuman karena persoalan politik, Belanda melarang anak‐anaknya untuk melanjutkan sekolah. Jadi, Sukarnolah yang mengajar mereka. Akupun mengajar mereka menggambar. Untuk membeli kertas atau batu tulis tidak ada uang, akan tetapi dinding rumah di Jalan Plambetan dipulas dengan kapur putih. Bukankah dinding putih baik untuk digambari? Maka kugambarkan dari luar kepala gambar persamaan, dan karikatur dari bintang film kesayanganku, Frances Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami menjadi tokoh‐tokoh politik di masa‐masa yang akan datang atau tidak, maka pada waktu itu sesungguhnyalah kami merupakan suatu rumah tangga yang terdiri dari anak‐anak yang ketakutan dan lapar dalam arti yang murni. Dan Aku? Aku adalah yang paling besar, hanya itu.

Pak Tjokro dibebaskan pada bulan April 1922. setelah tujuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bulan Juli, pada waktu mulai tahun pelajaran baru secara resmi, aku kembali ke Sekolah Teknik Tinggi dan kembali kepada ny. Inggit. Utari dan aku tidak dapat lebih lama menempati satu tempat tidur, bahkan satu kamarpun tidak. Jurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang yang baru kawin kasih sayangku kepadanya hanya sebagai kakak. Sebagai kepala rumah tangga dari Pak Tjokro perananku sebagai seorang bapak. Yang tidak dapat dibayangkan sekarang adalah perasaanku sebagai seorang suami. Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang termasuk aku sendiri maka akan terbaca dalam dadanya itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin diibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Manakala bajuku koyak, aku ingin isteriku menarnbalnya. Dengan Utari keadaannya terbalik. Aku yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak. Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenyataan kami tak pernah saling mencintai. Sebagai teman seperjuangan, orang yang demikian tidak sanggup menemaniku pada waktu tenagaku terpusat pada penyelamatan dunia ini, sedang dia sementara itu main bola tangkap.

Sudah menjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaya hatiku dapat terhibur. Kalau harus diadakan pilihan antara wanita yang memiliki tangan yang cantik dengan seorang yang memiliki hati yang lembut, maka aku seringkali tertarik pada yang terakhir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelaki perempuan, akan tetapi aku memerlukan hati yang lembut dan dorongan yang besar dan mulia yang hanya dapat diberikan oleh hati seorang wanita.

Inggit dan aku berada bersama‐sama setiap malam. Aku adalah orang yang selalu bangun dan membaca. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus menyiapkan makan untuk hari berikutnya. Dia selalu ada disekelilingku. Dia adalah nyonya rumah. Aku orang bayar makan. Kami berteduh dibawah atap yang sama. Aku melihatnya di pagi hari sebelum ia menggulung sanggulnya. Dia melihatku dalam pakaian piyama. Aku senantiasa makan bersama‐sama dengan dia. Memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Sayuran seperti lodeh, yaitu sayuran yang dimasak dengan santan pakai cabe yang kusenangi atau oncom yang juga kusukai ataupun makanan lain yang khusus dibuatnya untuk menyenangkan hatiku. Dia itulah bukan isteriku yang membereskan karnarku, melayaniku, memperhatikan pakaianku dan mendengarkan buah pikiranku. Dialah orang yang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.

Tuan Sanusi orang yang sudah berumur dan sama sekali tidak peduli terhadap isterinya. Seorang penjudi dengan kegemarannya yang luar biasa main bilyar. Setiap malam ia berada di rumah bola untuk mencobakan kecakapannya. Pada praktekola mereka bercerai di satu rumah. Rumah tangga mereka tidak berbahagia. Sebagai suami isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah kedalam lingkungan ini seorang muda yang bernafsu dan berapi‐api. Ia sangat tertarik kepadanya. Ia melihat dalam diri perempuan itu seorang wanita yang sadar, bukan kanak‐kanak, seperti yang satunya yang masih main kucing‐kucingan di luar. Keberanian ini mulai bangkit. Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan di hari‐hari itu belum ada televisi ….. hanya Inggit dan aku di rumah yang kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan adalah wajar, bahwa hal‐hal yang demikian itu tumbuh. Inggit dan aku banjak mengalami saat‐saat yang menyenangkan bersama-sama. Kami keduanya mempunyai perhatian yang sama. Dan barangkali juga ….. yah, kami keduanya bahkan sama mencintai Sukarno. Disamping hakekatnya sebagai seorang perempuan, diapun memuja Sukarno secara menghambakan diri sama sekali dan membabi buta baik atau buruk, benar atau salah. Tidak lain dalam hidupnya kecuali Sukarno serta segala apa yang menjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbicara dia mendengarkan. Aku berbicara dengan sangat gembira; dia menghargai.

Utari menyadari apa yang terjadi, akan tetapi ia mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku dalam arti suami isteri ang sebenarnya, maka tidak timbul iri hati dari pihaknya. Hadji Sanusipun mengetahui apa ang sedang berkembang, akan tetapi perkawinannya sudah sejak lama rusak. Aku tidak merasa bahwa aku merebutnya dari sang suami ataupun merusak suatu rumah tangga yang berbahagia, sebagaimana yang dikatakan oleh majalah‐majalah luar negeri. Tidak ada sesuatu yang akan dirusakkan. Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinya lagi. Tanpa mendramakannya dengan teliti, kukira tentu ada bersembunyi perasaan‐perasaan bersalah. Aku tidak ingat betul, apakah aku mengalaminya sedemikian banyak ketika itu ataukah aku rnengeluarkannya sekarang sebagai usaha untuk menerangkan tindakan‐tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakyatku mengenai Presidennya yang membicarakan ini sarnpai sedemikian jauh. Aku tidak menghendaki mereka menjadi
malu. Anggaplah, karena peristiwa percintaan sedang tumbuh di waktu itu aku mencoba menganalisa kejahatannya. Dan aku tidak pernah berhenti menganalisanya. Kumaksud bukan affair Inggit saja. Yang kumaksud adalah seluruh kehidupanku. Seakan aku menganalisa secara abadi kekuatan kekuatan yang ada dalam diriku. Dan kekuatan‐kekuatan yang ada di sekelilingku. Otakku dan jiwaku selalu bernyalanyala dengan perjuangan yang tak habis‐habis antara yang baik dan yang jahat.

Setelah enam bulan berada di Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang kerumah bapaknya.
“Pak,” kataku.
“Saya mengembalikan Utari kepada bapak.”
“Keputusan siapa ini?” tanya Pak Tjokro.
“Saya, Pak. Sayalah yang ingin bercerai.”
Kemudian ia hanya bertanya, “Apakah dia menerima keputusanmu?”
Aku menjawab, “Ya. Dia sudah tentu susah karena, walaupun bagaimana, anak‐anak gadis kita menganggap perceraian itu suatu kemunduran. Dia barangkali merasa sedikit bingung, sebab selama dua tahun kami kawin aku tak pernah menyentuhnya. Sebenarnya dia tidak ingin bercerai, akan tetapi diapun menyadari bahwa jalan inilah yang paling baik bagi kami berdua.”
Pak Tjokro mengangguk diam.
“Pak, saya menunggu sampai bapak keluar dari tahanan untuk menyampaikan hal ini. Perkawinan kami sudah tidak baik dari permulaannya dan tidak akan baik untuk seterusnya. Tanpa perceraian tidak dapat dibina perkawinan yang berbahagia.”

Pak Tjok menghargai apa yang kukatakan. Ia tidak menanyakan persoalan‐persoalan pribadi. Dan setelah kejadian ini Pak Tjokro sekeluarga dan aku selalu dalam hubungan yang baik. Hubungan kami tetap seperti sebelumnya. Apa yang kuucapkan secara resmi hanyalah, “Saya jatuhkan talak satu kepadarnu,” dan perkawinan kami berakhir. Jadi, cara kami bercerai ringkas saja. Tidak melalui banyak prosedur. Dalarn agama Islam terdapat tiga tingkatan perceraian. Talak satu masih membuka jalan untuk rujuk kembali dalarn tempo 100 hari. Talak dua, tingkat yang lebih kuat dari yang pertama, mengulangi maksud untuk bebas dari isterirnu, akan tetapi masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranya masih ingin bergaul dengan dia. Tingkat terakhir adalah untuk menyatakan, “Saya ceraikan engkau.” Setelah talak tiga ini jatuh, hubungan perkawinan sudah diputuskan dengan resmi dan si suami tidak dapat mengawini kembali isterinya itu, kecuali.jika si isteri kawin dulu sementara dengan laki‐laki lainya. Hukurn Islam tidak mengizinkan perempuan menceraikan lakinya. Pun tidak dapat menolak untuk diceraikan. Tentu saja kalau suaminya sangat kejam dan ia mengadu kepada Kadi, “Suami saya memukul saya,” atau kalau dia bersumpah, “Dia tidak pernah datang kepada saya dan menurut kenyataan dia tidak pernah mempergauli saya selama berbulan‐bulan,” dan memohon kepada Kadi supaya mengizinkannya bercerai atas alasan yang tertentu itu, maka Kadi itu dapat menceraikannya. Hakim agama ini mempunyai kekuasaan untuk memberi izin guna meringankan keadaan ini menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum‐Hukum Islam diadakan di padang pasir. Dan dimana di padang pasir orang bisa mencari ahli hukum atau Surat Perceraian? Itulah sebabnya mengapa kami tidak mempunyai aturan seperti di Barat. Jadi, di tahun 1922, aku hanya menyerahkan pengantinku yang masih kanak‐kanak itu kepada bapaknya, dan itulah seluruhnya. Aku kembali ke Bandung dan kepada cintaku yang sesungguhnya.

Suatu malam, setelah kami bersamasama selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul yang sangat sederhana. Kami hanya berdua seperti biasa dan aku berkata pelahan;
“Aku mencintaimu.”
Dia. “Akupun begitu,” keluar cepat dari mulutnya.
“Aku ingin mengawinimu” kubisikkan.
“Akupun ingin menjadi isterimu,” dia membalas berbisik.
“Apakah menurut pendapatmu kita akan rnendapat kesulitan?”
“Tidak,” katanya lunak.
“Aku akan bicara dengan Sanusi besok. Sanusi mau bekerja sama.”
Dalam tempo yang singkat Inggitpun bebas. Tidak terjadi adegan yang seram seperti di layar putih. Kukira dia merasa, bahwa inilah jalan yang paling baik ditempuh. Setelah itu Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan yang baik. Kenyataannya, tidak lama kemudian dia kawin lagi. Dalam waktu yang singkat Utaripun kawin dengan Bachrum Salam, kawan sama‐sama bayar makan di rumah Pak Tjokro. Mereka memperoleh delapan orang anak dan ketika buku ini ditulis mereka masih menjadi suami isteri. Jadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka.

Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari isteriku yang masih gadis kepada isteri lain yang selusin tahun lebih tua daripadaku. Apakah mereka menekan perasaannya karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah mengetahuinya. Inggit yang bermata besar dan memakai geIang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intellektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan ini sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat‐pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh buku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa yang kuperlukan yang tidak dapat kuperoleh semenjak aku meninggalkan rumah ibu. Psikiater akan mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu. Mungkin juga, siapa tahu. Jika aku mengawininya karena alasan ini, maka ia terjadi secara tidak sadar. Dia. waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, maka perasaan‐perasaan yang dibangkitkannya padaku tidak lain seperti pada seorang kanak‐kanak. Inggit dalam masa selanjutnya dari hidupku ini sangat baik kepadaku. Dia adalah ilhamku. Dialah pendorongku. Dan aku segera memerlukan semua ini. Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa di tingkat kedua. Aku sudah kawin dengan seorang perempuan yang sangat kuharapkan dengan perasaan berahi. Aku sekarang sudah melalui umur 21 tahun. Masa jejakaku sudah berada dibelakangku. Tugas hidupku merentang di depanku. Pikiran embryo yang dipupuk oleh Pak Tjokro dan mulai menemukan bentuk di Surabaya tiba‐tiba pecah menjadi kepompong di Bandung dan dari keadaan chrysalis berkembanglah seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada disampingku aku melangkah maju memenuhi amanat menuju cita‐cita.

Kamis, 24 September 2015

BAB IV : Surabaya Dapur Nasionalisme



DARI  jenis binatang pra sejarah yang digali di kepulauan kami, ahli‐ahli purbakala membuktikan bahwa setengah juta tahun yang lalu pulau Jawa sudah didiami orang. Kebudayaan kami adalah kebudayaan purba. Bukalah buku Ramayana. Di dalamnya orang akan membaca keterangan mengenai “Negeri Suarna Dwipa” yang mempunyai tujuh buah kerajaan besar. Suarna Dwipa, yang berarti pulau‐pulau emas, adalah nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam cerita‐cerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun yang lalu. Dari abad kesembilan ketika negeri kami bernama Kerajaan Sriwijaya sampai abad ke-14 waktu negeri kami bernama Majapahit, kami punya “negeri yang terkenal makmur telah mencapai tingkatan ilmu yang demikian tinggi sehingga menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia beradab”. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam surat‐surat, gulung perkamen yang berharga dari negeri Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudayaan seluruh Asia.

Negeri kami masih tersohor dalam lingkungan internasional ketika Christopher Columbus mencari kepulauan. Rempah‐rempah gugusan pulau‐pulau yang sekarang kita namakan Kepulauan Maluku. Seumpama Columbus tidak berlayar mencari jahe, buah pala, lada dan cengkeh kami dan tidak sesat pula di jalan, tentu dia tidak akan menemukan benua Amerika. Ketika jalan laut menuju Hindia akhirnya ditemukan orang, modal asing mengerumuni pantai kami, seperti semut mengerumuni tempat gula. Dari Lisboa datanglah Vasco’da Gama. Dari negeri Belanda Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik tanda dimulainya “Revolusi Perdagangan” di Eropa. Kapitalisme ini tumbuh hingga ia mengenyangkan lapangan eksploitasi dalam masyarakat mereka sendiri. Barang‐barang yang sebelumnya diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; jadi Timur menjadi pasar‐pasar tambahan untuk barang‐barang berlebih. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk modal berlebih yang tidak lagi bisa memperoleh jalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu membawa Liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu negara itu harus ditaklukkan. Pedagang pedagang menjadi penakluk; bangsa‐bangsa Asia‐Afrika dijajah dan kelobaan ini membuka pintu kepada jaman Imperialisme. Jawa diduduki diabad ke 16; Maluku diabad ke 17 dan lambat laun Negeri Belanda menguasai kepulauan kami secara berturut‐turut hingga ke Bali yang baru dikuasai di tahun 1906.

Dengan cepat kekuasaan asing menanamkan akar‐akarnya. Mereka mengambil kekayaan kami, mengikis kepribadian kami dan musnalah Putera‐puteri harapan bangsa dari suatu Bangsa yang Besar yang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, menciptakan tari. Kami tidak lagi dikenal oleh dunia luar, kecuali oleh penghisap‐penghisap dari Barat yang mencari kemewahan di Hindia. Akibat daripada Imperialisme sungguh jahat sekali. Orang laki‐laki diambil dari rumahnya dan dipaksa menjadi budak di pulau‐pulau yang jauh, dimana terdapat kekurangan tenaga manusia. Perempuan‐perempuan dipaksa bekerja di kebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerjaannya, sekalipun melahirkan pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah yang lunak dan murah terbuat dari kacang kedele yang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri yang lemah. Itulah kami jadinya. Kami terus‐menerus dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai otak seperti kapas. Kami menjadi pengecut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun yang kami lakukan selalu salah. Kami menjadi rakyat seperti dodol dengan hati yang kecil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapuk. Kami menjadi suatu bangsa yang hanya dapat membisikkan, “Ya tuan”, Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa‐bawa oleh sifat rendah diri, yang masih saja mereka pegang teguh secara tidak sadar. Hal itu menyebabkan kemarahanku baru‐baru ini. Wanita‐wanita dari kabinetku selalu menyediakan jualan makanan Eropa. “Kita mempunyai panganan enak kepunyaan kita sendiri,” kataku dengan marah. “Mengapa tidak itu saja dihidangkan?”. “Ma’af, Pak,” kata mereka dengan penyesalan, “Tentu bikin malu kita saja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita yang melarat.” Ini adalah suatu pemantulan kembali dan pada jaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah diri kami yang telah berabad‐abad umurnya kembali memperlihatkan diri. Ejekan yang terus‐menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menyebabkan kami yakin akan hal tersebut. Dan keyakinan bahwa engkau bangsa yang hina, lagi bodoh adalah suatu senjata yang ada dalam tangan penjajah.

lmperialisme adalah kumpulan kekuatan jahat yang nampak dan yang tidak nampak. Penindasan yang sudah demikian lama dirasakan menyebabkan bangkitnya suatu masa para pelopor. Sun Yat Sen mendirikan Gerakan Nasional Tiongkok di tahun 1885. Kongres Nasional India: di tahun 1887. Aguinaldo dan Rizal membangkitkan Filipina. Di tahun‐tahun permulaan abad ke‐20. Seluruh Asia bangkit dan di abad keduapulah yang megah ini, dalam mana isolasi tidak akan terjadi lagi, maka bangsa Indonesia yang lemah dan pemalu itupun dapat merasakan gelora daripada kebangkitan ini. Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Jawa menyusun partai nasional yang pertama dengan nama “Budi Utomo”, yang artinya “Usaha yang Suci”. Di tahun 1912 organisasi ini memberi jalan kepada Sarekat Islam yang mempunyai anggota sebanyak dua setengah juta orang dibawah pimpinan H.O.S. Tjokro Aminoto. Bangsa Indonesia yang menderita secara perseorangan sekarang mulai menyatukan diri dan persatuan nasional mulai tersebar. Ia lahir di Jakarta, akan tetapi sang bayi baru pertamakali melangkahkan kakinya di Surabaya. Di tahun 1916 maka Surabaya merupakan kota pelabuhan yang sangat sibuk dan ribut, lebih menyerupai kota New York. Pelabuhannya baik dan menjadi pusat perdagangan yang aktif. Ia menjadi suatu kota industri yang penting dengan pertukaran yang cepat dalam perdagangan gula, teh, tembakau, kopi. Ia menjadi kota tempat perlombaan dagang yang kuat dan orang‐orang Tionghoa yang cerdas ditambah dengan arus yang besar dan para pelaut dan pedagang yang membawa berita‐berita dari segala penjuru dunia. Penduduknya semakin bertambah, terdiri dari pekerja pelabuhan dan pekerja bengkel yang masih muda‐muda dan yang bersemangat menyala‐nyala. la menjadi kota dimana bergolak persaingan, pemboikotan, perkelahian di jalan jalan. Kota itu bergolak dengan ketidakpuasan dari orang‐orang revolusioner. Ke tengah‐tengah kancah yang mendidih demikian itulah seorang anak ibu berumur 15 tahun masuk dengan menjinjing sebuah tas kecil. Keluarga Tjokroaminoto terdiri dari enam orang. Yaitu Pak dan Bu Tjokro, anak‐anaknya Harsono yang 12 tahun lebih muda daripadaku, Anwar 10 tahun lebih muda, puteri mereka Utari lima tahun lebih muda dan seorang bayi.

Pak Tjokro semata‐mata bekerja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannya tidak banyak. Dia tinggal di kampung yang penuh sesak tidak jauh dari sebuah kali. Menyimpang dari jalanan yang sejajar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri‐kanannya dan ia terlalu sempit untuk jalan mobil. Gang kami namanya Gang 7 Peneleh. Pada seperempat jalan jauhnya masuk ke gang itu berdirilah sebuah rumah buruk dengan paviliun setengah melekat. Rumah itu dibagi menjadi sepuluh kamar kamar kecil, termasuk ruang loteng. Keluarga Pak Tjokro tinggal di depan; kami yang bayar makan di belakang. Sungguhpun semua kamar sama melaratnya, akan tetapi anak‐anak yang sudah bertahun‐tahun bayar makan mendapat kamar yang namanya saja lebih baik. Kamarku tidak pakai jendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus‐menerus sekalipun di siang hari. Duniaku yang gelap ini mempunyai sebuah meja goyah tempatku menyimpan buku, sebuah kursi kayu, sangkutan baju dan sehelai tikar rumput. Tidak ada kasur. Dan tidak ada bantal. Surabaya di waktu itu sudah menikmati kemegahan lampu listrik. Setiap kamar mempunyai fitting dan setiap pembayar makan membayar ekstra untuk lampu. Hanya kamarku yang tidak punya. Aku tidak punya uang untuk membeli bolanya. Aku belajar sampai jauh malam dengan memakai pelita. Bahkan akupun tidak mampu membeli kelambu untuk menutupi balai‐balai dan supaya terhindar dari nyamuk. Kamar itu kecil seperti kandang ayam. Tidak ada udara segar dan menjadi sarang serangga. Akan tetapi karena tak ada orang lain yang mau tinggal denganku di kamar yang gelap itu, maka setidak‐tidaknya aku dapat memilikinya untuk diriku sendiri. Sewanya 11 rupiah, termasuk makan. Atau secara perhitungan kasarnya empat dolar sebulan. Bapak mengirimiku uang duabelas rupiah setengah, dengan sisanya limapuluh sen untuk uang saku. Di tahun 1917 bapak dipindahkan ke Blitar. Karena pemindahan ini merupakan kenaikan jabatan, nasib bapak berubah sedikit. Oleh sebab itu ia dapat mengirimiku $ 1,50 untuk uang saku setiap bulannya. Memang sukar bagi seorang inlander untuk memasuki H.B.S. Disamping $ 15,00 sebulan untuk uang sekolah dan pet seragam bertuliskan H.B.S., kami harus membayar lagi $ 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul jumlah ini, karena aku menghitung setiap rupiahnya. Kujaga agar jangan ada yang terpakai secara tidak disengaja.

Walaupun aku anak yang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanya kalau dalam kesempitan saja. Kukira ini sama saja dengan setiap anak muda, bukan? Dengan tidak usah membuka surat suratku terlebih dulu bapakpun sudah tahu isinya, bahwa si Karno minta uang. Suratku kepada orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis yang itu‐itu juga dan tidak pernah berubah‐ubah: “Bapak dan lbu yang tercinta saya berada dalam keadaan sehat‐sehat saja dan harapan saja tentu agar Bapak dan Ibu keduanya demikian pula hendaknya.” Kemudian setelah salam itu, dibaris yang ketiga aku langsung menyampaikan maksud yang terpenting. Aku menulis, “Sekarang saya sedang kekurangan uang. Apakah Bapak dan lbu dapat mengirimi barang sedikit?” Disamping ibuku yang penyayang itu selalu mengirimiku secara diam‐diam satu atau dua rupiah bila ia punya uang, akupun mengusahakan sumber lain. Pak Poegoeh, suami kakakku. Mereka tinggal sekira 50 kilometer dari Surabaya dan Pak Poegoeh selalu memberiku uang lima rupiah untuk ongkos pulang. Karena uang itu tidak habis semua untuk ongkos perjalanan, maka aku sering menemui mereka. Pak Poegoeh enam tahun lebih tua daripadaku dan bekerja di kantor irigasi dari Departemen Pekerjaan Umum. Sekalipun kami seperti kakak beradik, aku tak pernah minta bantuan uang kepadanya secara terang‐terangan. Cara orang Jawa kebanyakan tidak langsung. Kuminta kepada kakakku yang menyampaikannya pula kepadanya. Dan permintaan ini kupikirkan lebih dulu semasak‐masaknya. Aku tak pernah meminta di luar batas yang kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah. Sebagai hasil dari kebijaksanaan semacam ini aku kadang‐kadang mendapat lebih dari pada yang kuminta. Terasa hari libur sangat menyenangkan apabila hadiah itu datang karena aku lalu bisa menjamu kawan‐kawanku dengan kopi atau jajan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh. Setiap anak mempunyai sepeda. Aku sendiri yang tidak. Biasanya aku membonceng dengan salah seorang kawan atau berjalan kaki. Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers yang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnya bagai seorang ibu. Ia kugosok‐gosok. Kupegang‐pegang. Kubelai‐belai. Pada suatu kali Harsono yang berumur tujuh tahun secara diam‐diam memakai sepedaku itu dan menabrakkannya ke pohon kayu. Seluruh bagian mukanya patah. Harsono ketakutan. Ia tidak berani mengatakan padaku, dan ketika aku mendengar berita itu, kusepak pantatnya dengan keras. Kasihan Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu‐minggu lamanya aku tergoncang oleh Fongersku yang hitam mengkilat itu yang sekarang sudah bengkok‐bengkok. Akhirnya aku dapat mengumpulkan delapan rupiah lagi dan membeli lagi sepeda yang lain tapi untuk Harsono.

Sekali dalam seminggu aku menikmati satu‐satunya kesenanganku Film, Aku sangat menyukainya. Betapapun, caraku menonton sangat berbeda dengan anak‐anak Belanda. Aku duduk ditempat yang paling murah. Coba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanya dapat menyewa tempat di belakang layar. Kau dengar?, Di belakang layar!! Di waktu itu belum ada film bicara, jadi aku harus membaca teksnya dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda! Lama‐kelamaan aku menjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan cepat membaca teks itu dari kanan ke kiri. Aku tidak peduli, karena tak ada cara lain lagi. Bahkan aku bersyukur karena masih bisa menyaksikannya. Saat satu‐satunya yang menyebabkan aku kecewa ialah, bila dipertunjukkan film adu tinju. Aku sama sekali tak dapat menaksir, tangan siapa yang melakukan pukulan. Dimasa itu “Yankee Doodle” yang menjadi lagu kegemaranku. Mereka memutarnya pada tiap istirahat dan sambil duduk seorang diri dalam gelap di belakang layar aku menyanjikannya dengan lunak untuk diriku sendiri. Sampai sekarang aku masih menyanyikan lagu itu.

Pada suatu kali sebuah sirkus datang ke kota kami. Dalam pertunjukan itu mereka melepaskan merpati‐merpati dan kalau ada yang hinggap di bahu seseorang, itulah yang memenangkan hadiah. Kami segera mengetahui bahwa, ketika burung itu hinggap pada teman kami, yang sama‐sama bayar makan, hadiahnya seekor kuda. Jadi berkupullah kami, Suarli pemenang yang beruntung itu, kami pemuda lainnya sebanyak setengah lusin dan seekor kuda tua yang sudah letih. Kami tidak dapat akal akan diapakan kuda itu. Tapi kami harus membawanya keluar, karena itu kami bawa ia pulang. Di bagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada jalan untuk bisa sampai ke tempat itu kecuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar Rakyat Jawa dan mempawaikan kuda kami melalui kamar duduk, terus ke halaman belakang dimana ia ditambatkan ke batang sawo. Tak seorangpun di antara kami yang punya uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu kepunyaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli menjualnya. Kecuali satu sirkus dan film, masa itu bukanlah masa yang menggembirakan bagiku. Aku tidak mempunyai kesenangan semasa mudaku. Aku terlalu serius. Aku tidak mengikuti kesenangan seperti yang dialami oleh anak‐anak sekolah yang lain. Mungkin apa yang dinamakan tindakan kegila‐gilaan sebagaimana yang dituduhkan kepadaku sekarang, adalah semacam imbangan untuk mengejar kerugian di masa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan yang menyegarkan dalam kehidupanku hingga aku berumur 50 tahun. Kegembiraan yang kucari sekarang mungkin sebagai usahaku untuk menutupi segala sesuatu yang tidak pernah kunikmati di masa muda, sebelum waktunya terlambat. Aku tidak tahu dengan pasti. Aku tak pernah memikirkannya hingga datang waktunya bagiku untuk menjalankan pembedahan diri dengan jalan otobiografi ini.

Bagaimanapun juga, ini adalah percakapan antara kita antara engkau, pembaca, denganku. Dan karena aku berbicara dan gelora hati yang meluap‐luap, kemudian merenungkan semua ini sebagai kesedihanku di masa yang silam, aku merasa mungkin juga benar bahwa aku sedang berusaha mengimbangi kekurangan diriku sendiri sekarang. Pendeknya, aku tidak mengalami masa senang di Surabaya. Pada waktu aku mula datang, aku menangis setiap hari. Ah, aku sangat kehilangan ibu tak dapat kuceritakan kepadamu betapa Wanita senantiasa memberikan pengaruh yang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punya ibu, tidak ada nenek untuk membujukku yang selamanya mengagumiku, tidak ada Sarinah yang dengan tekun menjagaku. Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro adalah seorang wanita yang manis dengan perawakan kecil bagus. Dia sendirilah yang mengumpulkan uang makan kami saban minggu. Dialah yang membuat peraturan seperti: (l) Makan malam jam sembilan dan barangsiapa yang datang terlambat tidak dapat makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada di kamarnya jam 10 malam. (3) Anak sekolah harus bangun jam empat pagi untuk belajar. (4) Main‐main dengan anak gadis dilarang. Aku memelihara hubungan rapat dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena memerlukan hati seorang perempuan, aku menoleh pada Mbok Tambeng, perempuan pembantu rumah tangga, untuk menghiburku. Dia menjadi pengganti ibuku. Dia menambal celanaku. Dia tahu bahwa gado‐gado adalah kegemaranku, karena itu dia suka menyusupkan ekstra untukku. Mbok sayang kepadaku, tapi ah! aku sangat merindukan kasih sayang itu. Masih saja si Mbok tidak bisa menjadi penghibur yang cukup bagi seorang anak yang halus perasaannya.

Jiwaku menjerit‐jerit mencari kepercayaan hati, bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnya. Seorang pemimpin hanya tertarik pada soal‐soal politik. Bahunya bukanlah tempat bersandar untuk menangis. Atau tangannya bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak. Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang kepadaku. Kasih sayangnya ini dinyatakannya terutama di musim kemarau tahun 1918. Biasanya aku pulang mengunjungi orang tuaku dalam waktu libur. Dalam dua bulan libur tinggal di Blitar aku merencanakan pergi ke tempat kawan‐kawan untuk sehari di Wlingi, yang jaraknya 20 kilometer dari Blitar. Semua rencana telah disiapkan dan dengan keinginan yang besar menghadapi tujuan aku melambai kepada bapak, mencium ibu dan memulai perjalananku. Aku baru saja sampai di rumah kawan‐kawanku ketika bahana menggemuruh yang menakutkan memenuhi angkasa dan tanah bergoncang‐goncang di bawah kakiku. Perempuan‐perempuan tua yang ketakutan, anak anak yang menjerit dan para pekerja yang letih oleh membanting tulang terpencar keluar dari pondok pondok mereka menuju kampung yang penuh sesak. Ketakutan, kebingungan dan kekacauan menghinggapi rakyat kampung. Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mencari saat itu untuk menunjukkan kemurkaan dari Dewa‐dewa. Langit menjadi hitam oleh arang dan abu bermil‐mil jauhnya. Di mana‐mana ledakan lahar. Daerah itu diselubungi oleh asap, api dan racun. Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih‐didih mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana antara Blitar dan Wlingi. Banyak orang yang mati. Aku sangat kuatir karena kutahu orang tuaku tentu sangat susah memikirkan diriku …. Hidupkah dia …. Matikah dia. Mereka sadar, bahwa anaknya berada tepat di jalan dimana gunung itu memuntahkan isinya dan mereka tidak dapat memperoleh berita. Sementara itu aku mendengar, bahwa separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran tentang apakah yang mungkin terjadi terhadap orang tuaku. Aku harus kembali secepat mungkin, akan tetapi tidak ada kendaraan yang bagaimanapun bentuknya yang dapat menyeberangi lautan lahar yang menggelora itu. Akhirnja, satu‐satunya jalan yang harus ditempuh ialah dengan mengarunginya berjalan kaki. Selagi lahar masih agak panas, aku mulai melangkahkan kaki menuju jalan pulang. Aku masih jauh ketika mereka menampakku, lalu datang berlari‐lari menyongsongku di tengah jalan. Mereka memelukku. Mereka menciumku. Mereka mengelus pipiku. “O, engkau masih hidup,” teriak bapak. “Engkau masih hidup engkau masih hidup.” Ibu menangis. Aku merangkul orang tuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali bertemu satu sama lain. Di Surabaya, Pak Tjokro pun rupanya merasa cemas memikirkan keadaanku. Ia menaiki mobilnya dan melakukan perjalanan sehari penuh hanya karena hendak mengetahui bagaimana keadaanku. Mula‐mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah itu sudah menjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Jalan Sultan Agung 53 ia hanya mendapati rumah kosong sama sekali. Kecuali beberapa ekor burung‐burung kecil. Ia jadi sangat bingung sebelum bertemu dengan kami. Jadi aku menyadari bahwa Pak Tjokro mencintaiku dengan caranya sendiri. Hanya caranya itu tidak cukup bagi seorang anak yang kesepian. Ia jarang berbicara denganku. Bahkan aku jarang melihatnya. Ia tidak mempunyai waktu yang senggang. Kalau ia di rumah tentu ada tamu atau ia bersamadi dalam kesunyian.

Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaya. Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita‐cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku‐bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinya kepada pribadiku yang sangat kuharapkan. Karena tak seorangpun yang mencintaiku seperti yang kuidamkan, aku mulai mundur. Kenyataan‐kenyataan yang kulihat dalam duniaku yang gelap hanyalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri ke dalam apa yang dinamakan orang Inggris “Dunia Pemikiran”. Buku‐buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus‐asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Selurah waktu kupergunakan untuk membaca. Sementara yang lain bermain main, aku belajar.

Aku mengejar ilmu pengetahuan di samping pelajaran sekolah. Kami mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di kota ini yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnya buat seorang anak yang miskin. Aku menyelam sama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita‐cita mereka adalah pendirian dasarku. Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena dia berceritera kepadaku tentang Declaration of Independence yang ditulisnya ditahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan‐kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia. Pada waktu sekarang, apabila ada orang menegur, “Hai Sukarno, mengapa engkau tidak suka kepada Amerika?” maka aku akan menjawab: “Apabila engkau mengenal Sukarno, engkau tidak akan mengajukan pertanyaan itu? Masa mudaku kupergunakan untuk memuja bapak‐bapak perintis dari Amerika. Aku ingin berlomba dengan pahlawan‐pahlawannya. Aku mencintai rakyatnya. Dan aku masih mencintainya. Bahkan sekarangpun aku masih membaca majalah Amerika dari “Vogue” sampai ke “Nugget”. Aku akan selalu merasa berkawan dengan Amerika. Ya, berkawan. Aku mengatakannya secara terbuka. Aku menuliskan tentang diriku sendiri. Kunyatakan ini dengan tercetak. Suatu pendirian dasar seperti yang kumiliki takkan dapat membiarkanku tidak berkawan dengan Amerika. Di dalam dunia pemikiranku akupun berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau’ Aristide Briand’ dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Aku meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah Danton pejuang besar dari Revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam kamarku yang gelap. Aku menjadi tersangkut secara emosional dengan negarawan‐negarawan ini. Di sekolah kami mendengarkan pelajaran tentang pengadilan rakyat dari bangsa Yunani kuno. Ia melekat dalam pikiranku. Aku membayangkan pemikir‐pemikir yang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan semboyan‐semboyan seperti “Persetan dengan Penindasan” dan “Hidup Kemerdekaan”. Hatiku terbakar menyala‐nyala. Macam itu, ketika semua orang sudah mengunci pintu, kamar kandang ayamku menjadi ruang pengadilan aku sebagai seorang pemuda Yunani yang terbakar oleh antusiasme. Sambil berdiri di atas mejaku yang goyah aku ikut terbawa oleh perasaan. Aku mulai berteriak Selagi aku berpidato dengan sangat keras kepada tak seorangpun, kepala‐kepala berjuluran keluar pintu, mata bertonjolan dari kepala dan terdengar suara anak anak muda berteriak dalam gelap’ “Hei, No, kau gila?. Ada apa….Hei, apa kau sakit?” dan kemudian tukang‐tukang sorak itu kembali pada jawabannya sendiri, “Ah, tidak ada apa‐apa. Cuma si No mau menyelamatkan dunia lagi”, dan satu demi satu pintu‐pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan.

Pada waktu aku semakin mendekati kedewasaan, duniaku di dalam semakin lebar dan mencakup pula kawan‐kawan dari Tjokroaminoto. Setiap hari para pemimpin dari partai lain atau pemimpin cabang Sarekat Islam datang bertamu. Dan setiap kali mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan‐kawanku serumah keluar menyaksikan pertandingan bola, aku duduk dekat kaki orang‐orang ini dan mendengarkan. Kadang‐kadang kubagi tempat tidurku dengan salah seorang pemimpin itu dan minum dari mata air keahlian mereka hingga waktu fajar. Aku menyukai waktu makan, Kami makan secara satu keluarga, jadi aku dapat mengikuti dan meresapkan percakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah di sekeliling meja, aku bahkan kadang‐kadang berani mengajukan pertanyaan. Mahaputera mahaputera ini puteraputera yang besar dari rakyat Indonesia, tidak mengacuhkanku karena aku masih anak anak. Sekali pada waktu makan malam mereka mempersoalkan tentang kapitalisme dan tentang barang barang yang diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaya Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanya perlahan, “Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?”, “Anak ini sangat ingin tahu,” senyum Pak Tjok, kemudian menambahkan, “De Vereenigde Oost Indische Compagnie menyedot — atau mencuri— kirakira 1800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag. “Apa yang tinggal di negeri kita?” kali ini aku bertanya lebih keras sedikit. “Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, yaitu orang yang memperkenalkanku kepada Marxisme. “Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa‐bangsa,” sela kawannya yang bernama Muso. “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi‐mosi kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan kelihatan senang karena mempunyai murid yang begitu bersemangat. “Pengurangan pajak dan serikat‐serikat sekerja hanya dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda —sekalipun kita membenci kerjasama ini.” “Tapi apakah baik untuk membenci seseorang sekalipun ia orang Belanda?”. “Kita tidak membenci rakyatnya,” dia memperbaiki, “Kita membenci sistem pemerintahan Kolonial.” “Mengapa nasib kita tidak berubah jika rakyat kita telah berjuang melawan sistem ini sejak berabad‐abad?”. “Karena pahlawan‐pahlawan kita selalu berjuang sendiri‐sendiri. Masing‐masing berperang dengan pengikut yang kecil di daerah yang terbatas,” Alimin menjawab. “O, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli pikir India, Swami Vivekananda, menulis, “Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Aku mulai menerapkan apa‐apa yang telah kubaca kepada apa yang telah kudengar. Aku memperbandingkan antara peradaban yang megah dari pikiranku dengan tanah airku sendiri yang sudah bobrok. Setapak demi setapak aku menjadi seorang pencinta tanah air yang menyala‐nyala dan menyadari bahwa tidak ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri ke dalam dunia khayal. Aku menghadapi kenyataan bahwa negeriku miskin, malang dan dihinakan.

Aku berjalan‐jalan seorang diri dan merenungkan tentang apa yang sedang berputar dalam otakku. Satu jam lamanya aku berdiri tak bergerak di atas jembatan kecil yang melintasi sungai kecil dan memandangi iring‐iringan manusia yang tak henti‐hentinya. Aku melihat rakyat tani dengan kaki ayam berjalan lesu menuju pondoknya yang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mencekam di atas kereta terbuka yang ditarik oleh dua ekor kuda yang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulit putih kelihatan bersih-bersih, sedang saudara‐saudaranya yang berkulit sawo matang begitu kotor, badannya berbau, bajunya compang‐camping, anak‐anak mereka jorok‐jorok. Aku bertanya dalam hati, apakah orang bisa tetap bersih apabila mereka tidak punya pakaian lain untuk penggantinya. Kuhisap masuk tubuhku bau daripada sisa makanan yang sudah busuk dan bau selokan‐selokan yang melemaskan, dan kulekatkan dengan kuat di dalam lobang hidungku bau busuk daripada kemelaratan rakyatku, sehingga sekalipun aku pergi 10.000 mil dari sungai aku masih tetap menciumnya. Aku memandang ke dalam keputusasaan dari setiap laki‐laki dan perempuan yang kulihat. Aku terhanyut bersama rakyatku. Rakyatku yang miskin lagi papa. Dari jembatan aku menoleh ke arah massa yang seperti semut banyaknya dan aku mengerti sejelas‐jelasnya, bahwa inilah kekuatan kami. Dan aku menyadari sesadar‐sadarnya akan penderitaan mereka. Sekalipun anak kecil tak akan dapat menahan rawan hatinya pada waktu pertama kali melihat kata‐kata peringatan di kolam‐renang yang berbunyi, “Terlarang bagi anjing dan bumiputera.” Anjing didahulukan. Dapatkah seorang manusia tidak tersinggung perasaannya, apabila seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda yang menaiki tremnya? Aku seorang anak berumur 14 tahun ketika mukaku ditampar oleh seorang anak berhidung panjang, tak lain hanya disebabkan karena aku seorang inlander. Apakah menurut pendapatmu tindakan‐tindakan yang demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati? Ya, aku mempunyai kesadaran sebagai seorang anak. Aku memulai persembahan hidupku ini pada umur 16 tahun.

Perkumpulan politik yang pertama kudirikan adalah Tri Koro Darmo yang berarti “Tiga Tujuan Suci” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial yang kami cari. Ini pada dasarnya adalah suatu organisasi sosial dari para pelajar seumurku. Jong Java, sebagai langkah kedua, mempunyai dasar yang lebih luas. Begitupun pergaulan sosial kami berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri untuk memperkembangkan kebudayaan asli seperti mengajarkan tari Jawa atau mengajar main gamelan. Jong Java pun banyak melakukan pekerjaan‐pekerjaan sosial. Kami pergi ke kampung‐kampung yang berdekatan untuk mengumpulkan dana bagi sekolah atau untuk membantu korban bencana letusan gunung. Kami mengadakan pertunjukan di tempat tempat yang memerlukan pertolongan dan mengeluarkan biaya‐biaya itu dari hasil uang masuk. “Harus kuakui sekarang, bahwa tampangku di masa muda sangat tampan sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanya sedikit wanita terpelajar pada waktu itu, tidak banyak anak gadis yang menjadi anggota kami. Dan potonganku lebih banyak menyerupai seorang perawan cantik sehingga kalau Jong Java mengadakan pertunjukan. Mana kalau diserahi memainkan peran wanita yang naif itu. Aku betul‐betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku. Akan kuceritakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu, bagaimana pendapat orang asing tentang seorang Presiden yang mau menceritakan hal yang demikian itu. Tetapi sungguhpun demikian aku akan menceritakannya juga. Aku membeli dua potong roti manis. Roti bulat. Seperti roti gulung. Dan kuisikan ke dalam bajuku. Ditambah dengan bentuk badanku yang langsing setiap orang menyatakan, bahwa aku kelihatan sangat cantik. Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mencium laki‐laki. Selesai pertunjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu saja. Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam baju dan kumakan. Sambil memandangku diatas panggung para penontonpun memberikan komentarnya, bahwa aku memperlihatkan bakat yang besar untuk tampil di muka umum. Akupun sangat setuju dengan pendapat mereka, tidak lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, yaitu suatu kelompok sebagai pengajaran tambahan dan bertujuan untuk membahas buah-buah pikiran dan cita‐cita. Disinilah aku mengadakan pidato yang pertama. Aku berumur 16 tahun. Ketua Studieclub mendapat giliran untuk berbicara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan yang kuat untuk berbicara. Aku tidak dapat mengendalikan diriku selanjutnya. Selagi duduk dalam pertemuan itu aku melompat dan berdiri diatas meja. Suatu gerak perbuatan khas seperti kanak‐kanak. Kukira ini disebabkan karena aku bersifat emosional. Sekarangpun aku masih demikian. Ketua menyatakan, “Adalah menjadi suatu keharusan bagi generasi kita untuk menguasai betul bahasa Belanda.” Setiap orang setuju. Setiap orang, kecuali aku sendiri. Aku gugup tentunya, akan tetapi ketika aku memperoleh perhatian mereka, aku berbicara dengan suara yang tenang sekali, “Tidak. Saya tidak setuju, “Tanah kebanggaan kita ini dulu pernah bernama Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara. Nusantara berarti ribuan pulau‐pulau ini, dan banyak di antara pulau‐pulau ini lebih besar daripada seluruh negeri Belanda. Jumlah penduduk Negeri Belanda hanya segelintir jika dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipergunankan oleh enam juta orang. “Mengapa suatu negeri kecil yang terletak di sebelah sana dari dunia ini menguasai suatu bangsa yang dulu pernah begitu perkasa, sehingga dapat mengalahkan Kublai Khan yang kuat itu?” Dengan suara tenang dan tidak terburu‐buru atau tegang aku selanjutnya mengemukakan alasan alasan ditambah dengan kenyataan‐kenyataan. Aku mengakhiri pidato itu dengan kata‐kata, “Saya berpendapat, bahwa yang harus kita kuasai pertama‐tama lebih dulu adalah bahasa kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melayu. Kemudian baru menguasai bahasa asing. Dan sebaiknya kita mengambil bahasa Inggris, oleh karena bahasa itu sekarang menjadi bahasa diplomatik. “Belanda berkulit putih. Kita sawomatang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita punya lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilometer dari sini. Mengapa kita harus berbicara bahasa Belanda?!” Maka terjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya. Kuingat Direktur H.B.S., Tuan Bot, berdiri disana. Dia tidak berbuat apa‐apa melainkan memandang kepadaku dengan muka tidak senang sama sekali, seakan dia berkata, “Oooh, Oooh, Sukarno mau bikin susah!” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah cukup dibikin susah.

Aku adalah anak baru di sekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera. H.B.S. mempunyai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranya orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala jurusan oleh anak laki‐laki dan anak‐anak gadis Belanda. Sudah tentu mereka tidak senang padaku. Terkecuali barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai jam tujuh pagi sampai jam satu siang, enam hari dalam seminggu. Diantara jam jam pelajaran ada waktu istirahat, pada waktu mana setiap anak bermain atau jajan. Akan tetapi anak‐anak Belanda tentu memisah dari kami. Mereka berusaha supaya kami tidak ada kawan. Merekapun berusaha supaya hidung kami selalu berlumuran darah. Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak yang rapi pakai celana baru dan kaku berwarna putih yang menjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi jalanku dan mengejek, “Menyingkir dari jalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri disana dia melepaskan tangannya PANGGGG !’ Tepat di hidungku! Jadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak belur. Aku tak pernah menjadi tukang berkelahi, tapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan aku tak dapat menghindari perkelahian tangan. Kadang‐kadang kukalahkan mereka, akan tetapi terkadangpun mereka mengalahkanku. Kamipun mengalami diskriminasi di dalam sekolah. Sekolah begitu keterlaluan terhadap kami, sehingga kalau seorang anak Bumiputera membuat suatu kesalahan maka Direktur menghukumnya dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mencurahkan tenaga dengan sungguh‐sungguh kepada pelajaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai yang didapat oleh anak‐anak Belanda pasti lebih tinggi daripada yang diterima oleh anak Indonesia. Nilai kecakapan diukur dengan angka. Angka 10 yang tertinggi dan angka enam adalah batas nilai cukup dan inilah kebanyakan yang diterima oleh inlander. Kami mempunyai suatu pameo mengenai angka‐angka ini: angka sepuluh adalah untuk Tuhan, sembilan untuk professor, angka delapan untuk anak yang luar biasa, tujuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera.

Aku adalah penggambar cat air yang luar biasa. Di tahun kedua kami disuruh menggambar kandang anjing. Sementara yang lain masih mengukur‐ukur dan menaksir‐naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang yang lengkap, di dalamnya seekor anjing yang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh kelas. Ia mengatakan, “Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai yang setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka yang paling tinggi itu? Tidak. Selalu orang kulit putih lebih pandai. Lebih cerdas. Orang kulit putih lebih banyak tahu. Alat kolonial tidak akan berhasil, kecuali jika ia memupuk keunggulan kulit putih terhadap sawo matang. Guru‐guru sangat sayang kepadaku. Aku anak yang patuh, sungguh‐sungguh dan hormat. Hanya sesekali aku bertindak di luar garis. Aku tidak pernah betul‐betul kurang ajar, akan tetapi pada suatu kali setelah pidatoku yang pertama aku berjalan melalui ruangan ketika professor Egberts melihatku dan meneriakkan, “Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punya ‘Jong Java’?” dan aku mengejek, Ya, Professor, bagaimana pula dengan tuan punya ‘Oud Holland?” Aku menjadi favorit dari guru bahasa Jerman yang juga memimpin Kelompok Perdebatan kami. Dalam memperdebatkan persoalan kehilir‐kemudik dan mengajukan pendapat‐pendapat yang berlawanan, aku memperbaiki kecakapan berbicara. Professor Hartagh melihat, bahwa aku dapat memimpin kawan‐kawanku. Pada suatu pertemuan Hartagh menyampaikan kepada ke 20 orang murid secara bersama‐sama dan kepadaku secara pribadi, bahwa aku akan menjadi pemimpin yang besar kelak. Professor mungkin punya bola kristal untuk meramal. Iapun pernah menceritakan kepada orang lain, bahwa dia akan menjadi guru dan memang itu dia jadinya. Seorang guru perempuan betul‐betul sangat sayang kepadaku, sehingga ia memberiku nama Belanda. Aku, calon pemimpin dari suatu revolusi di masa yang akan datang, dengan nama Belanda? Dia menamaiku Kerel. Dia bahkan memanggilku “Schat”, perkataan Belanda untuk kesayangan. Kalau dia kelupaan kunci atau sesuatu barang, dia lalu menunjukku dan berkata dengan manis, “Schat, maukah engkau pergi ke kamarku dan mengambil kunci?” Ach, ini adalah hak istimewa yang sangat besar. Pada suatu hari dia mengajakku ke rumahnya untuk menerima pelajaran tambahan bahasa Perancis. Aku gemetar karena anugerah yang istimewa itu.

Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar dengan anugerah istimewa semacam ini. Akan tetapi karena alasan lain. Aku sangat tertarik kepada anak‐anak gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan percintaan dengan mereka. Hanya inilah satu‐satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini selalu menjadi idaman? Apakah seorang jantan berkulit sawo matang dapat menaklukkan seorang laki-laki kulit putih? Ini adalah suatu tujuan yang hendak diperjuangkan. Menguasai seorang gadis kulit putih dan membikinnya supaya menginginiku adalah suatu kebanggaan. Seorang pemuda tampan senantiasa mempunyai kawan gadis‐gadis yang tetap. Aku punya banyak. Mereka bahkan memuja gigiku yang tidak rata. Dan aku mengakui bahwa aku sengaja mengejar gadis‐gadis kulit putih. Cintaku yang pertama adalah PauIine Gobee, anak salah seorang guruku. Dia memang cantik dan aku tergila‐gila kepadanya. Kemudian menyusul Laura. Oo, betapa aku memujanya. Dan ada lagi keluarga Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunyai beberapa orang puteri ayu. H.B.S. letaknya di arah yang berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan‐bulan aku mengambil jalan keliling, hanya untuk lewat di muka rumahnya dan untuk menangkap selintas pandangannya. Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang‐kadang diajak oleh salah seorang kawan kesana dan disanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadis-gadis Belanda lalu. Kemudian bagai suatu cahaja yang bersinar dalam gelap, muncullah Mien Hessels dalam kehidupanku. Hilanglah Laura, lenyaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenyap pulalah kegembiraan Depot Tiga. Sekarang aku punya Mien Hessels. Dia sama sekali milikku dan aku sangat tergila‐gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinya yang merah mawar itu. Aku rela mati untuknya kalau dia menghendakinya. Umurku baru 18 tahun dan tidak ada yang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain daripada memiliki jiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapnya dengan perasasn berahi dan sampailah aku pada suatu kesungguhan hati, aku harus mengawininya. Tak satupun yang dapat memadamkan api yang sedang menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang gula di atas kue yang takkan dapat kubeli. Kulitnya lembut bagai kapas, rambutnya ikal dan pribadinya memenuhi segala‐galanya yang kuidamkan. Untuk dapat merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainya lebih dari segala harta bagiku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara kepada bapaknya. Aku mengenakan pakaian yang terbaik, dan memakai sepatu. Sambil duduk di kamarku yang gelap aku melatih kata‐kata yang akan kuucapkan dihadapannya. Akan tetapi pada waktu aku mendekati rumah yang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut. Aku tak pernah sebelumnya bertamu kerumah seperti ini. Pekarangannya menghijau seperti beludru. Kembang-kembang berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai prajurit. Aku tidak punya topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinya aku memegang hatiku.Dan disanalah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri gadingku, seorang yang tinggi seperti menara yang memandang ke bawah langsung kepadaku seperti aku ini dipandang sebagai kutu di atas tanah. “Tuan,” kataku. “Kalau tuan tidak berkeberatan, saya ingin minta anak tuan.” , “Kamu? Inlander kotor, seperti kamu? sembur tuan Hessels, “Kenapa kamu berani‐beranian mendekati anakku? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar!” Dapatkah orang membayangkan betapa aku merasa seperti didera dengan cambuk? Dapatkah kiranya orang percaya, bahwa noda yang dicorengkan di mukaku ini pada satu saat akan pupus sama sekali? Sakitnya adalah sedemikian, sehingga di saat itu aku berpikir, “Ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Dan jauh dalam lubuk hatiku aku merasa pasti, bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku yang berparas bidadari itu, Mien Hessels. 23 tahun kemudian, yaitu tahun 1942. Jaman perang. Aku sedang melihat lihat etalase pada salah satu toko pakaian laki‐laki di suatu jalanan Jakarta, ketika aku mendengar suara di belakangku, “Sukarno?” Aku berpaling memandangi seorang wanita asing, “Ya, saya Sukarno”. Dia tertawa terkikik‐kikik, “Dapat kau menerka siapa saya ini?” Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia seorang nyonya tua dan gemuk. Jelek, badannya tidak terpelihara. Dan aku menjawab, “Tidak, nyonya. Saya tidak dapat menerka. Siapakah Nyonya?”, “Mien Hessels,” dia terkikik lagi. Huhhhh! Mien Hessels! Puteriku yang cantik seperti bidadari sudah berubah menjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan yang buruk dan kotor seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinya sampai begitu. Dengan cepat aku memberi salam kepadanya, lalu meneruskan perjalananku. Aku bersyukur dan memuji kepada Tuhan Yang Maha Penyayang karena telah melindungiku. Caci maki yang telah dilontarkan bapaknya kepadaku sesungguhnya adalah suatu rahmat yang tersembunyi. Kalau dipikirpikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan yang telah diberikan‐Nya. Huhhh, orang apa itu!

Jalan hidupku sebagai seorang pencinta di masa belia berakhir ketika Bu Tjokroaminoto meninggal. Keluarga Pak Tjokro dengan anak‐anak yang bayar makan pindah ke rumah lain. Dan pemimpin yang kumuliakan itu keadaannya begitu tertekan, sehingga aku merasa kasihan melihatnya. Anaknya masih kecil‐kecil, dia seorang diri dan rumah itu asing suasananya. Seluruh keluarga nampaknya tidak berbahagia sama sekali. Aku tidak dapat memandangi keadaan yang demikian itu. Kami belum lama menempati rumah yang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang menemuiku dan berkata,
“Sukarno, kau lihat bagaimana sedihnya hati Tjokroaminoto. Apakah tidak dapat kau berbuat sesuatu supaya hatinya gembira sedikit?”
Hatiku sangat berat dan menjawab, “Saya dengan segala senang hati mau mengerjakan sesuatu, supaya dia dapat tersenyum lagi. Tapi apa yang dapat saya lakukan? Saya tidak bisa menjadi isteri Pak Tjokro.”
Bukan begitu, tapi engkau dapat menggembirakan hatinya dengan cara lain.”
“Cara lain?”
“Ya.”
“Bagaimana ?”
“Jadi menantunya. Puterinya Utari sekarang tidak punya ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap hari depan anaknya itu dan siapa yang akan menjaganya dan mengasihinya. Inilah yang memberatkan pikirannya. Saya kira, kalau engkau minta kawin dengan anak saudaraku itu, mungkin ini akan mengurangi sedikit tekanan perasaan dari Pak Tjokro.”
“Tapi umurnya baru 16,” kataku memprotes.
“Ya memang, khan engkau belum 21. Perbedaan umur tidak begitu jauh. Katakanlah pada saya, Sukarno, apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?”.
“Yah,” aku menerangkan pelahan‐lahan.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Tjokro … Saya mencintai Utari. Tapi tidak terlalu sangat. Sungguhpun begitu, sekiranya saja perlu memintanya untuk meringankan beban dari junjunganku, yah, saya bersedia. Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengajukan lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan menjadi menantu aku segera dipindahkan ke kamar yang lebih besar dengan perabot yang lebih banyak. Sampai di hari ia menutup mata, ia tak pernah mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanya karena aku sangat menghormatinya dan menaruh kasihan kepadanya. Kami kawin dengan cara yang kita namakan “kawin gantung”. Ini adalah perkawinan biasa yang dibenarkan dalam hukum dan agama. Orang Indonesia menjalankan cara ini karena beberapa alasan. Kadang‐kadang dilangsungkan kawin gantung terlebih dulu, karena kedua‐duanya belum mencapai umur untuk dapat menunaikan kewajiban mereka secara jasmaniah. Atau adakalanya si anak dara tinggal di rumah orangtuanya sampai pengantin laki‐laki sanggup membelanjai rumah tangga sendiri.

Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku menghendakinya. Akan tetapi aku tidak melakukannya karena dia masih kanak‐kanak. Boleh jadi aku seorang yang pencinta, akan tetapi aku bukanlah seorang pembunuh anak gadis remaja Itulah sebabnya, mengapa kami melakukan kawin gantung. Pesta kawinnya pun digantung. Di saat‐saat aku mengawini Utari terjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian yang kolot. Penghulu secara serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata;
“Anak muda, dasi adalah pakaian orang‐yang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.”
“Tuan Kadi” aku membalas, “Saya menyadari, bahwa dulunya mempelai hanya memakai pakaian Bumiputera, yaitu sarung. Tapi ini adalah cara lama. Aturannya sekarang sudah diperbarui.”
“Ya,” katanya membentak, “Akan tetapi pembaruan itu hanya untuk memakai pantalon dan jas buka.”
“Adalah kegemaran saya untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tajam.
Dalam hal ini, kalau masih terus berkeras kepala untuk berpakaian rapi itu, saya menolak untuk melakukan pernikahan. Apabila aku ditegur dengan keras di muka umum, atau disuruh harus begini‐begitu atau lainlain, aku menjadi keras. Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi. Aku menyentak bangkit dari kursiku dan menjawab dengan tandas,
“Barangkali lebih baik tidak kita lanjutkan hal ini sekarang.”
Timbul protes keras dari imam mesjid, akan tetapi aku menggeledek,
“Persetan, tuan‐tuan semua. Saya pemberontak dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya.”
Kalau sekiranya tidak di hadapan salah seorang tamu kami yang juga seorang alim dan sanggup menikahkan kami, mungkinlah Sukarno tidak akan bersatu dengan Utari Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama. Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa jejakaku, terjadilah peristiwa aneh yang kedua. Tepat sebelum aku menginjak ambang pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan yang terakhir. Aku mengeluarkan korek api dari kantong, menggoreskan sebuah di sisi kotaknya untuk menyalakannya dan. Sisst …… seluruh kotak itu menyala oleh jilatan api. Anak korek api yang ada dalam kotak itu menyala semua sampai yang terakhir. Karena jilatan api ini jariku terbakar. Kuanggap kejadian ini sebagai pertanda buruk dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan yang gelap. Aku tidak menceritakan hal ini kepada siapapun, akan tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan yang menakutkan … Ehhh …. Apa maksudnya ini?”.

Sekalipun kedudukanku sebagai orang yang baru kawin, waktuku di malam hari kupergunakan untuk mempelajari Pak Tjokro. Aku menjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah yang selalu menemaninya ke pertemuan‐pertemuan untuk berpidato, tak pernah anaknya. Dan aku hanya duduk dan memperhatikannya. Dia mempunyai pengaruh yang besar terhadap rakyat. Sekalipun demikian, setelah berkali‐kali aku mengikutinya aku menyadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan suaranya dalam berpidato. Tak pernah membuat lelucon. Pidato‐pidatonya tidak bergaram. Aku tidak pernah membaca salah satu buku yang murah tentang bagaimana cara menjadi pembicara di muka umum. Pun tidak pernah berlatih di muka kaca. Bukanlah karena aku sudah cukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak mempunyai apa‐apa. Cerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannya menjatuhkan suaranya. Aku melihat gerak tangannya dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula‐mula sekali aku belajar menarik perhatian pendengarku. Aku tidak hanya menarik, bahkan kupegang perhatian mereka Mereka terpaksa mendengarkan. Suatu getaran mengalir ke sekujur tubuhku ketika mengetahui, bahwa aku memiliki suatu kekuatan yang dapat menggerakkan massa. Aku menguraikan pokok pembicaraanku dengan sederhana. Pendengarku menganggap cara ini mudah untuk dimengerti, karena aku lebih banyak mendasarkan pembicaraanku kepada cara bercerita, jadi tidak semata‐mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan ke suatu rapat dan kepadaku dimintanya untuk menggantikannya. Kali ini adalah suatu pertemuan kecil, akan tetapi aku menggunakan ke sempatan ini dengan sebaik‐baiknya. Aku mulai dengan suara lunak. “Negeri kita, saudara, adalah tanah yang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat ke dalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan menjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakyat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban yang harus dipikul sehari‐hari. Puncak gunung menghisap awan di langit, turun ke bumi dan negeri kita diberi rahmat dengan hujan yang melimpah‐limpah. Akan tetapi kita kekurangan makan dan perut kita menjerit‐jerit kelaparan.” “Ya, betul,” mereka berteriak dari tempat duduknya. Suaraku mulai naik. “Saudara tahu apa sebabnya, saudara-saudara? Sebabnya ialah, oleh karena orang yang menjajah kita tidak mau menanamkan uang kembali untuk memperkaya bumi yang mereka peras. Penjajah hanya mau memetik hasilnya. Ya, mereka menyuburkan bumi kita ini. Betul! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menyuburkan bumi kita ini? Tahukah saudara apa yang dikembalikan ke bumi kita ini setelah 350 tahun menjajah? Saya akan ceritakan kepada saudara‐saudara. Bumi kita ini mereka suburkan dengan mayat‐mayat yang bergelimpangan dari rakyat kita yang mati karena kelaparan, kerja keras dan hanya tinggal tulang belulang!, Maka dari itu saya bertanya, apakah saudara tidak setuju dengan saja? Seperti saya sendiri, apakah hati saudara tidak digoncang‐goncang oleh keinginan untuk merdeka? Saya pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saya bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saya akan mati dengan cita‐cita untuk merdeka didalam dadaku. Apakah saudara tidak setuju dengan saya?” ,”Setujuuuuuu!” mereka berteriak, “Ya…. kami setuju!” Mereka melihat kepadaku kalau aku berbicara. Mereka memandang kepadaku seperti memuja, matamata terbuka lebar, muka‐muka terangkat ke atas, meneguk semua kata‐kataku dengan penuh kepercayan dan harapan.

Nampak jelas, bahwa aku menjadi pembicara yang ulung. Ia berada dalam urat nadiku. Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik di rumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme. Dan setelah mengikuti setiap pidatoku maka kawan‐kawan seperjuangan mulai mengerti lebih banyak tentang pendirianku. Kemudian mulai setuju. Lalu mengikuti pendirianku. Dan mencintaiku. Mereka memilihku sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku menjadi ketua. Akupun menulis untuk majalah Pak Tjok, “Oetoesan Hindia”, akan tetapi dengan nama samaran, karena memang susah untuk memasuki sekolah Belanda sambil menulis dalam majalah yang membela tindakan untuk merobohkan Pemerintah Belanda. Aku kembali kepada Mahabharata untuk memperoleh nama samaranku. Aku memilih nama “Bima” yang berarti “Prajurit Besar” dan juga berarti keberanian dan kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membicarakannya. Ibu, yang tidak tahu tulis baca, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka yang menulisnya. Memang benar, bahwa keinginan mereka yang paling besar adalah, agar aku menjadi pemimpin dari rakyat, akan tetapi tidak dalam usia semuda itu. Tidak dalam usia yang begitu muda, yang akan membahayakan pendidikanku di masa yang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai jalan untak mencegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menyampaikan kepada mereka, bahwa Karno kecil dan Bima yang gagah berani adalah satu. Ramalan emas yang pertama kali diucapkan oleh ibu di waktu aku lahir —yang didengungkan kembali oleh nenekku pada waktu aku masih bocah kecil dan yang didengungkan lagi di masa mudaku oleh Professor Hartagh— kemudian diucapkan pula ketika aku berada diambang pintu usiaku yang keduapuluh. Dan oleh dua orang yang berlainan. Dr. Douwes Dekker Setiabudi adalah seorang patriot yang telah menderita selama bertahun tahun dalam pembuangan. Ketika umurnya sudah lebih dari 50 tahun ia menyampaikan kepada partainya, yaitu National Indische Partij, “Tuan‐tuan, saya tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saya masuk keliang kubur saya ingin menjadi pejuang untuk Republik Indonesia. Saya telah berjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut dan bilamana datang saatnya saya akan mati, saya sampaikan kepada tuan‐tuan, bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya. “Anak muda ini,” ia menambahkan, “..akan menjadi ‘Juru selamat’ dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang. “Ramalan yang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam yang saleh. Dia banyak mempergunakan waktunya untuk sembahyang dan mendo’a. Setelah beberapa lama melakukan samadi, ia kembali kepada seluruh keluarganya pada suatu malam yang berhujan dan ia berbicara dengan kesungguhan hati?, “Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberinya tempat berteduh di rumahku.” Sepuluh Juni 1921 aku lulus. Sebelas Juni rencana yang telah kuperbuat untuk diriku sendiri ditolak mentah‐mentah. Kawan‐kawanku dan aku bermaksud akan meneruskan pelajaran ke sekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu sama sekali dengan itu. Aku bersoal dengan dia. “Ibu, semua anak‐anak yang lulus dari H.B.S. dengan sendirinya pergi ke Negeri Belanda. Itulah jalan yang biasa. Kalau orang mau memasuki sekolah tinggi dia pergi ke Negeri Belanda. “Tidak. Tidak bisa. Anakku tidak akan pergi ke Negeri Belanda,” ia memprotes. “Apa salahnya keluar negeri?”,,”Tidak ada salahnya,” katanya. “Tapi banyak jeleknya untuk pergi ke negeri Belanda. Apakah yang menyebabkan kau tertarik?: Pikiran untuk mencapai gelar universitas ataukah pengharapan akan mendapat seorang perempuan kulit putih?”, ”Saya ingin masuk universitas, Bu.” Kalau itu yang kauingini, kau memasuki yang disini. Pertama kita harus mengingat kenyataan pokok yang mengendalikan sesuatu dalam hidup kita, Uang. Pergi keluar negeri memerlukan biaya yang sangat besar. Disamping itu, engkau adalah anak yang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaya engkau tinggal di sini diantara bangsa kita sendiri. Jangan lupa sekali‐kali, nak!, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulanan ini.” Dan begitulah aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu yang kudengar. Akan tetapi sesungguhnya tangan Tuhanlah yang telah menggerakkan hatiku.